Islam Indonesia, Islam Wasathiah

Senin, 27 Januari 2020, 00:30 WIB
Oleh: Dr. Muhammad Najib

Ilustrasi/Net

WASATHIAH merupakan kata sifat yang berasal dari  kosa kata "wasath" dalam bahasa Arab yang arti harfiahnya adalah "tengah".

Dalam Al Qur'an, ayat yang sering dirujuk terkait kata ini ada pada Surah Al Baqarah, ayat 143 yang berbunyi: “Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu sebagai ummat pertengahan agar kamu menjadi syuhada/saksi buat manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi buat kamu”.

Sejumlah mufassir termasuk  Quraish Shihab mengaitkan makna kata tengah atau pertengahan dalam  ayat ini dengan kata-kata: adil, terbaik, moderat, dan toleran. Sebagaimana diketahui, penafsiran ayat-ayat dalam Al Qur'an bersifat dinamis dan terus berkembang, sejalan dengan ruang dan waktu, serta berkembangnya pengetahuan ummat manusia.

Pada saat bersamaan, ummat Islam di Indonesia yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam dari sumber-sumber yang berasal dari dunia Arab, baik dengan cara belajar langsung ke sejumlah universitas yang berada di negara Arab seperti Mesir atau Saudi Arabia, maupun melalui guru-guru yang berasal  dari Yaman atau negara Arab lain yang datang ke berbagai daerah di Nusantara, juga bahan bacaan yang mayoritas ditulis oleh para ulama Arab atau ulama yang dibesarkan oleh dunia Arab.

Akibatnya, nilai-nilai Islam menyatu dengan tradisi dan budaya Arab. Dengan kata lain, ke-Islaman dan ke-Araban sudah sulit sekali dibedakan. Saat bangsa Arab mengalami kemajuan, seperti saat dipimpin oleh Bani Umayyah dari Damaskus dan Andalusia, atau saat Bani Abbasiah berkuasa di Bagdad, maka meleburnya ke-Araban dan ke-Islaman, tidak menjadi persoalan.

Akan tetapi saat dunia Arab terpuruk dan kehilangan kebanggaan, maka ummat Islam di dunia berusaha memisahkan nilai-nilai ke-Islaman dari nilai-nilai ke-Araban. Fenomena seperti ini telah lama terjadi di Iran dan Turki. Orang-orang Iran berusaha untuk menjaga budaya Parsinya dalam mengamalkan Islam, begitu juga orang-orang Turki yang ingin hidup dengan budaya Turkinya saat menjadi Muslim yang taat.

Kini semangat seperti ini tumbuh subur di Indonesia. Tokoh-tokoh NU yang sangat peduli dengan aspek tradisi dan budaya, mencoba berijtihad di wilayah ini. Gus Dur pernah melontarkan gagasan "Pribumisasi Islam", kini muncul gagasan "Islam Nusantara".

Dari kalangan Muhammadiyah muncul semangat Tajdid (pembaharuan) pemahaman keagamaan yang memberikan penekanan pada aspek pemurnian. Dengan asumsi bahwa pengamalan Islam di Indonesia, telah tercampur dengan keyakinan-keyakinan lokal warisan Hindu dan Budha yang kemudian dikenal dengan bid'ah, tahayyul, dan churafat (TBC). Pada saat bersamaan, Muhammadiyah berusaha mengadopsi manajemen modern, khususnya dalam pengelolaan pendidikan dan perekonomian.

Semangat Muhammadiyah dilanjutkan oleh ICMI, dengan cara mengadopsi perkembangan sains dan teknologi modern baik dalam perekonomian khususnya perbankan, industri modern, dan pendidikan tinggi.

Dengan perspektif positif, semua ikhtiar ini perlu mendapatkan apresiasi dan terus dilanjutkan. Walaupun dalam artikulasinya, termasuk dalam memberikan berbagai istilah tidak jarang menimbulkan kontroversi.

Saat ini dunia Arab berada dalam puncak keterpurukan. Percekcokan antar negara Arab di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang saling berebut pengaruh, atau percekcokan antara kabilah yang berebut kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan.

Semuanya berhubungan dengan kepentingan duniawi, dan nafsu orang-perorang atau kelompok,  telah mengakibatkan bukan saja mereka tertinggal dari dunia lain, akan tetapi juga telah menimbulkan bencana kemanusiaan yang menjadi beban bangsa-bangsa lain.

Jika dulu bangsa Arab menjadi bangsa yang membanggakan, memberikan kontribusi besar dalam membangun peradaban, sehingga musiknya, makanannya, pakaiannya serta berbagai bentuk budaya dan tradisinya ditiru, maka saat ini dalam kondisi memilukan sekaligus memalukan. Karena itu sangat wajar jika kemudian banyak ummat Islam di dunia tidak ingin diasosiasikan dengan Arab, termasuk Indonesia.

Karena itu, istilah Islam wasathiah yang kini banyak didengungkan oleh sejumlah tokoh Islam di Indonesia, dapat juga dimaknai sebagai ungkapan kekecewaan yang bercampur dengan kemarahan terhadap dunia Arab yang dulu sangat diagungkannya.

Islam Indonesia tidak hanya ingin dilihat berbeda, akan tetapi juga mencoba memberikan tawaran-tawaran atau jalan alternatif di tengah kebuntuan yang dihadapi dunia Arab. Demokrasi dalam memgelola negara, moderat dalam bersikap, toleran dalam menghadapi perbedaan, merupakan nilai-nilai hakiki dalam Islam yang tersebar dalam banyak surah dan ayat dalam Al Qur'an, yang kini banyak diabaikan oleh bangsa Arab.

Walaupun kita meyakini nilai-nilai yang merupakan bagian dari makna wasathiah ini, merupakan nilai-nilai yang akan menyelamatkan umat Islam, sekaligus memberikan berkah dan kebaikan kepada semua umat manusia, apapun agama, etnis, maupun negaranya, akan tetapi disadari bahwa semua ini masih memerlukan perjuangan panjang yang memerlukan indurensi dan kesabaran.

Lebih dari itu sikap moderat dan toleran yang kita dengung-dengungkan, jangan hanya berhenti pada perbedaan suku, ras, dan agama (SARA), akan tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah sikap moderat dan toleran antar umat Islam sendiri, baik terkait dengan perbedaan mazhab, perbedaan fiqih, perbedaan ormas, maupun perbedaan partai politik. Wallahua'lam.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan Demokrasi

Kolom Komentar


Video

NOORCA M. MASSARDI: Ketika Harta | Puisi Hari Ini

Senin, 10 Februari 2020
Video

[FULL] | Singgung Film Avengers: Endgame, Pidato Jokowi di Parlemen Australia

Senin, 10 Februari 2020
Video

30 Tahun MURI, Bakti Sosial ke Kampung Sumur

Selasa, 11 Februari 2020