Rachmat Gobel, Fokus Pada Pertani Dan Pendidikan Gorontalo

Selasa, 26 Maret 2019, 13:58 WIB | Laporan: Ruslan Tambak

Rachmat Gobel/Net

. Pemerintah pusat meminta Pemprov Gorontalo fokus pada pengembangan sektor pertanian, perikanan dan sektor kehutanan. Pengembangan sektor tersebut juga dipandang penting guna menggenjot pertumbuhan ekonomi dan menekan angka pengangguran.

Terhadap hal ini, politisi Partai Nasdem Rachmat Gobel mendukung, dan ingin petani Gorontal bisa terus berkembang. Salah Satu caranya petani bisa belajar ke Jepang.

"Petani kita dorong, kita akan mencari bagaimana petani-petani Gorontalo bisa dilatih didik di Jepang. Ini salah satunya untuk memanfaatkan hubungan Indonesia-Jepang," kata Gobel dalam keterangan tertulis, Selasa (26/3).

Gobel heran lantaran Gorontalo sekarang berada di peringkat lima wilayah miskin di Indonesia. Padahal, kata dia, pemerintah pusat sudah memberikan perhatian bagus seperti dana desa dan program untuk petani.

"Ini yang ingin kita benahi. Kita punya keinginan membangun Gorontalo karena selama 17 tahun ini miskin terus. Jadi kita benahi, petani dapat income lebih baik," katanya Caleg DPR RI Nasdem dari Dapil Gorontalo.

Selain faktor ekonomi, Gobel juga ingin memperbaiki sistem pendidikan. Menurutnya, guru-guru di Gorontalo harus diperhaikan dan meningkatkan kemapuannya.

"Guru seperti apa yang dibutuhkan untuk pembangunan SDM kita. Jadi bukan hanya murid saja. Tentu ada setrifikasi dan pelatihan serta membangun wawasan lebih luas lagi," tutur mantan Menteri Perdagangan itu.

Kemudian, Gobel juga akan melibatkan perguruan tinggi setempat untuk sama-sama membuat perencanaan apa yang bisa dilakukan untuk lima tahun mendatang. Perencanaan itu juga melihat faktor-faktor yang masih menjadi kelemahan serta kekurangan di Gorontalo.

"Jadi kita juga akan sinergikan dengan program Pak Jokowi dalam mengentaskan kemiskinan," tuturnya lagi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Februari 2019, NTP (NTP Umum) Provinsi Gorontalo tercatat sebesar 104.21 atau mengalami kenaikan sebesar 0.65 persen bila dibandingkan keadaan bulan Januari 2019 yang tercatat sebesar 103.54. NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 109.10 untuk Subsektor Tanaman Pangan (NTP-P), 110.67 untuk Subsektor Hortikultura (NTP-H), 96.10 untuk Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-R), 101.66 untuk Subsektor Peternakan (NTP-T), dan 100.94 untuk Subsektor Perikanan (NTN).

Dari 10 provinsi di Kawasan Timur Indonesia, ada 5 provinsi yang NTP-nya berada di atas 100. NTP tertinggi dicapai oleh Provinsi Sulawesi Barat sebesar 109.15, diikuti Provinsi Gorontalo sebesar 104.21, Sulawesi Selatan sebesar 102.99, kemudian Provinsi Papua Barat sebesar 101.62 persen dan Maluku sebesar 100.88.

Nilai Tukar Petani terendah terjadi di Provinsi Papua sebesar 90.87, kemudian Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 92.87, Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 93.72, Provinsi Sulawesi Utara sebesar 95.18, dan Provinsi Maluku Utara sebesar 95.75. NTP nasional sebesar 102.94 mengalami penurunan -0.37 persen dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 103.33.

Pada Februari 2019, terjadi deflasi di daerah perdesaan di Provinsi Gorontalo sebesar -0.04 persen. Deflasi terjadi karena adanya penurunan indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar -0.33 persen.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi Gorontalo pada Februari 2019 sebesar 119.03 atau naik sebesar 0.57 persen dibanding NTUP bulan Januari 2019.

Kolom Komentar


loading