Hal itu disampaikan Prabowo saat meresmikan lima bendungan di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Jumat, 10 Juli 2026.
Kehadiran awak media, menurutnya, membuat setiap ucapan berpotensi menjadi sorotan sehingga ia harus lebih berhati-hati dan menjaga pilihan kata.
"Ini ada wartawan, jadi saya enggak boleh bicara. Saya harus bicara hati-hati. Saya harus bicara sopan. Saya enggak boleh bilang koruptor bajingan? Nanti yang di-blow up ini, "Prabowo ngomong bajingan. Presiden harus ngomong sopan," ujarnya.
Prabowo lantas melempar pertanyaan kepada warga NTB mengenai pilihan antara kesantunan dalam bertutur atau kejujuran dalam berbicara. Mayoritas hadirin kompak memilih agar dirinya berbicara jujur.
"Anda mau saya bicara sopan atau mau saya bicara jujur?" tanya Prabowo, yang langsung dijawab serempak "Jujur" oleh warga.
Pernyataan tersebut bukan kali pertama disampaikan Prabowo. Saat menghadiri Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo pada 24 Juni 2026, ia juga mengaku harus mengatur gaya berbicaranya ketika banyak wartawan meliput karena khawatir bagian pidato yang bernada keras justru menjadi perhatian.
"Iya kan? Ini karena banyak wartawan, aku pidato aku harus aku atur gitu ya. Nanti yang dikutip yang apa tuh yang agak keras-keras dikit. Tapi kalau sama petani nelayan bicaranya harus keras, betul enggak? Kalau bicara kalem-kalem kalian enggak akan dengar, benar ya?" kata Prabowo.
Prabowo lantas menegaskan bahwa kesantunan dalam bertutur tidak selalu mencerminkan perilaku seseorang. Menurutnya, masih ada pihak yang tampil santun tetapi justru melakukan korupsi.
"Ngomong-ngomong sopan-sopan. Sopan-sopan tetap maling, sopan-sopan korupsi! Sok kaya, sok banyak duit, padahal duitnya nyolong dari rakyat! Saya sudah lama jadi orang Indonesia, gue kenal itu semua itu saudara-saudara! Mereka enggak suka sama Prabowo karena Prabowo ngerti!" tegasnya.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: