Duh, Jarak Area Parkir Ke Stasiun MRT Jauh...

Pembangunan Fasilitas Park & Ride Dikebut

Selasa, 26 Maret 2019, 10:58 WIB

Foto/Net

Berbagai fasilitas untuk mendukung moda transportasi Mass Rapid Transit (MRT) terus dibangun. Salah satunya adalah kantong parkir kendaraan pengguna MRT, atau park and ride. Sayangnya jarak kantong parkir dengan stasiun cukup jauh.

Lokasi park and ride alias lahan parkir direncanakan hanya berlokasi di sekitar stasiun MRT yang berada di pinggiran. Stasiun-stasiun itu adalah; Lebak Bulus, dan Fatmawati, Cilandak, Jakarta Selatan. Ada bebera­pa tempat yang direncanakan dijadikan lokasi lahan parkir kendaraan bagi pengguna MRT yakni; di tanah eks kavling Polri di Jalan Lebak Bulus Raya, lahan parkir bus Lorena dan lahan south quarter di Jalan RA Kartini, Jakarta Selatan.

Lokasi kantong parkir di sta­siun Lebak Bulus berada di sebelah kiri Jalan Lebak Bulus Raya. Persis di seberang Gedung Sepolwan Polri. Lokasinya berdi­ri di atas lahan eks kavling Polri. Jaraknya sekitar 500 meter dari stasuin. Perlu waktu 7-10 menit lebih berjalan kaki untuk menuju ke stasiun Lebak Bulus.

Tempatnya bukan berupa ge­dung khusus. Hanya lapangan terbuka, yang berada persis di bawah jalur layang MRT. Lumayan luas. Ribuan meter persegi. Tampaknya bisa me­nampung ratusan kendaraan roda empat maupun roda dua. Di tiang pagarnya tampak bergantung spanduk bertuliskan. "PARKAND RIDELEBAKBULUS." Lengkap dengan rincian tarif parkir mobil dan motor.

Hingga kini proses pemban­gunannya masih berjalan. Pagar di tiap sisi lokasi sudah berdiri. Demikian pula dengan gate oto­matis untuk akses keluar-masuk. Hanya saja, lahannya belum diaspal atau dibeton. Beberapa bagian masih bergelombang. Di lahan tersebut, juga disediakan jalur untuk orang berjalan kaki dengan lebar satu meter.

Sayangnya, meski berada paling dekat dengan stasiun Lebak Bulus, tak terlihat ada jalur khusus dari dan ke lokasi park and ride. Baik jembatan, maupun underpass. Jadi, peng­guna MRT yang memarkirkan kendaraannya di tempat itu mesti berjalan kaki melewati trotoar, dan sebuah persimpangan yang cukup ramai. Akan lebih repot jika hujan turun.

Boedi, salah seorang petu­gas Dinas Perhubungan DKI di lokasi mengatakan, tempat kantong parkir itu akan selesai sebelum MRT resmi beroperasi. Makanya, pembangunannya dikebut. Pekerja diberlakakukan secara shift. "Istirahat sore, habis itu lanjut lagi," kata Boedi.

Boedi tak mengetahui pas­ti jumlah kendaraan yang bisa ditampung. Yang jelas, kata dia, ada ratusan kendaraan. Baik mo­bil atau motor, bisa dititipkan di tempat tersebut. "Dan tarifnya flat per sekali masuk. Mobil Rp 5.000, motor Rp 2.000," terangnya.

Lokasi park and ride selanjut­nya adalah di stasiun Fatmawati. Lokasinya berada di bekas lahan parkir bus Lorena. Lokasinya sekitar 600 meter jaraknya dari stasiun Fatmawati. Lahannya di­belah menjadi dua bagian. Lahan depan merupakan tempat bus me­naikkan-menurunkan penump­ang, ruang tunggu penumpang, tempat parkir bus, loket tiket, dan kantor pengelola. Di bagian itu juga ditempatkan mushala, kantin, dan dan jasa pengiri­man ekspres (ESL Express). Di lahan bagian belakang ter­dapat ruang peristirahatan para awak bus. Di lahan tersebut juga ada ruang khusus untuk perbaikan bus dan area cuci bus. Namun, tidak ada pekerjaan berarti terkait pembangunan tempat park and ride MRT.

Joko, petugas keamanan di tempat itu mengatakan, lahan parkir bus Lorena itu luasnya dua hektare. Lahan itu dapat me­nampung 50 bus besar. Namun, bus-bus tersebut tidak selalu ada, karena harus mengantarkan pen­umpangnya secara bergantian. Kata dia, kalau busnya berhenti semua, maka lahannya akan penuh. "Karena pada keluar-masuk makanya jumlah busnya terlihat sedikit," kata Joko.

Di sisi lain, pengelola lahan itu justru belum mengetahui lah­annya akan dijadikan lokasi park and ride, serta titik penjemputan ojek online. "Waduh saya tidak tahu itu. Malah baru tahu," kata Sekretaris Manager Pengelola Lorena, Ida.

Selanjutnya, lahan lainnya adalah gedung south quarter Jalan RA Kartini, Cilandak Barat. Gedung ini jaraknya sekitar 750 meter dari stasiun Fatmawati. Perlu waktu 10 me­nit berjalan kaki dari sana untuk menuju stasiun Fatmawati.

Untuk menuju south quarter ke Stasiun MRT Fatmawati, pejalan kaki bisa berjalan lurus melewati Jalan Taman Cilandak Raya. Melewati trotoar Jalan RA Kartini. Dari pantauan, di south quarter telah difasilitasi titik pen­jemputan khusus ojek online di dekat gedung marketing. Tower perkantoran itu juga dipenuhi motor dan mobil pengunjung yang parkir. Namun, tak tampak persiapan berarti terkait rencana menjadikannya tempat park and ride. "Belum ada arahan dari atas soal itu, Mas," ujar petugas keamanan setempat.

Herman, salah seorang peng­guna MRT di Stasiun Lebak Bulus mendukung pembangu­nan kantong parkir. Menurutnya, itu bisa membuat pengguna kendaraan tertarik mengguna­kan MRT. Asalkan, jaraknya tak terlalu jauh, nyaman, dan aman. Jarak 500-600 meter dari stasiun, disebutnya masih wajar. "Enggak terlalu keringat-lah. Yang penting tarifnya jangan kemahalan," saran Herman.

Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan PT MRT Muhammad Kamaludin menjelaskan, kan­tong parkir dibangun untuk mendukung pengoperasian ko­mersial MRT Jakarta. Saat ini, pembangunan terus dikebut.

"Agar disaat waktu pengoperasian komersial MRT itu sudah bisa digunakan," kata Kamaludin.

Dia menyebutkan, luas kan­tong parkir di Stasiun Lebak Bulus berkisar delapan ribu meter persegi. Dia menambah­kan, lokasi kantong parkir ide­alnya berada di kawasan Jakarta Selatan. Tujuannya untuk mem­batasi kendaraan pribadi masuk ke tengah kota. PT MRT Jakarta memfokuskan pengadaan kan­tong parkir di wilayah Lebak Bulus dan Fatmawati, sebagai dua stasiun terjauh dari jalur fase I Lebak Bulus-Bundaran HI.

Ke depannya, areal parkir MRT tersebut akan dikelola PT MRT Jakarta. Sehingga, para pengguna MRT akan menggunakan kartu untuk menggunakan lahan parkir tersebut. "Pembayaran parkir nontunai untuk tarifnya masih dibahas," ungkapnya.

Latar Belakang
Murah, Tarif Parkirnya Cuma Rp 2.000- Rp 5.000


Waktu peresmian MRT. Sejumlah fasilitas utama dan penunjang, terus dike­but pembangunannya. Termasuk pembangunan area parkir di sekitar Stasiun MRT Lebak Bulus. Kepala Unit Pengelola Parkir DKI Jakarta Muhammad Faisol meyakini, pembangunan tempat parkir akan selesai tepat waktu. Itu merujuk pada proses pembangunan area parkir saat ini. Walau masih berupa tanah lapang, pihaknya telah me­masang gerbang parkir sekaligus alat pencetak tiket. "Selanjutnya, nanti dibangun pos petugas dan sistem ticketing," ujar Faisol.

Sementara itu, terkait lahan parkir yang kini masih berupa tanah lapang, pihaknya telah berkoordinasi dengan PT MRT untuk melakukan pengecoran. Sehingga, lahan parkir yang terletak persis di sisi Jalan Pasar Jumat, Cilandak, Jakarta Selatan itu dapat digunakan saat MRT Jakarta diresmikan.

Soal tanah, kata dia, semen­tara akan memakai bahan-bahan dari eks MRT yang ada di lokasi. "Karena yang terpenting adalah area parkir bisa langsung diman­faatkan," jelasnya.

Lebih lanjut, Faisol menye­butkan area parkir dapat menam­pung sebanyak 500 unit sepeda motor dan sebanyak 150 unit mobil. Terkait tarif yang dibe­bankan, pihaknya masih men­gacu pada Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 31 Tahun 2017 tentang Tarif Layanan Parkir, Denda Pelanggaran Transaksi dan Biaya Penderekan atau pemindahan kendaraan bermotor. Tarifnya Rp 2.000 untuk motor, dan Rp 5.000 untuk mobil. "Tarif itu flat untuk sehar­ian," jelas Faisol.

Dia berharap, kantong parkir itu jadi lokasi transit masyarakat untuk beralih naik MRT. Kata dia, boleh-boleh saja dari rumah naik kendaraan pribadi. "Tapi, dilanjutkan naik MRT ke pusat kota," tambahnya.

Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar me­mastikan pengerjaan fasili­tas parkir di Lebak Bulus dan Fatmawati sedang berproses. Lahan-lahan yang digunakan merupakan kerja sama pe­merintah dan swasta. "Sudah ada enam atau tujuh tempat di Jakarta Selatan," kata Wiliam. Dia mencontohkan salah satu lahan pemerintah yakni dikelola PT Jakarta Tourisindo (Jaktour) sebagai tempat parkir di Jakarta Selatan. Namun demikian, untuk swasta dia belum berani meng­umbarnya. Dia beralasan, kerja sama itu belum final.

Kolom Komentar


loading