PANCASILA bisa menjadi sebuah contoh keakraban antara kearifan lokal dan ajaÂran universal Islam. UniverÂsalitas nilai-nilai Islam tidak mesti harus dipertentangkan dengan nilai-nilai lokal. Nilai-nilai lokal yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan seÂsungguhnya dengan sendiÂrinya menjadi nilai-nilai universal. Pancasila bagi bangsa Indonesia adalah sebuah rahmat Tuhan yang tak ternilai harganya, karena dengannya InÂdonesia mampu bertahan di atas berbagai tanÂtangan dari dalam dan dari luar. Mungkin para founding fathers kita tidak pernah membayangÂkan bahwa apa yang telah ditetapak secara muÂfakat berupa penentuan dasar negara melahirkan Indonesia indah seperti saat ini. Sementara negaÂra-negara muslim terbesar mengalami krisis konÂseptual pasca kemerdekaannya tetapi Indonesia sudah menganggap selesai segala sesuatu yang berhubungan dengan dasar kebangsaan. NKRI sudah disepakati sebagai bentuk final bagi bangÂsa Indonesia.
Kehadiran Pancasila sebagai melting pot ternyata bermuara pada terbentuknya masyarakat madani (baca:
civil society) yang amat elegan bagi bangsa ini. Civil society di sini mengandung arti kecendÂerungan untuk mewujudkan nilai-nilai Islami lebih dominan sebagai kosekuensi populasi umat Islam yang menduduki posisi mayoritas mutlak. BukanÂnya mengedepankan legal formalism segai negara Islam sebagaimana dibahas dalam kitab-kitab Fikih Siyasah. Penampilan civil society dalam arti terseÂbut lebih membuka diri untuk mengakomodir seÂmua unsur yang ada dengan tetap memperhatikan unsur-unsur istimewa di dalam masyarakat. KelomÂpok inilah yang mempopulerkan istilah "masyarakat madani" sebagai wacana dalam kehidupan berbagÂsa dan bernegara lima tahun terakhir ini. Kelompok ini terus mengkristal sehingga menjadikan NKRI seÂmakin kokoh.
Bangsa ini sangat berutung karena Islam yang dikembangkan di dalamnya ialah Islam yang domÂinan beraliran Ahlu Sunnah dengan mazhab fikih Syafii yang lebih dominan. Aliran dan mazhab ini berperan penting juga di dalam mewujudkan keindonesiaan yang moderat. Namun bangsa ini tetap harus waspada karena intensitas pemahaÂman keagamaan masyarakat Indonesia cendÂerung dipengaruhi mobilitas masyarakat yang seÂmakin tinggi. Tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia semakin membaik, memungkinkan warganya mengirim anak-anak mereka studi ke luar negeri semisal ke Timur Tengah atau ke EroÂpa dan AS. Kehadiran manusia cerdas memiliki potensi besar untuk memberikan pengaruh ke daÂlam masyarakat, termasuk mempengaruhi panÂdangan keagamaan seperti aliran atau mazhab.
Doktrin dan daya tarik nuansa keagamaan terÂtentu yang dirasakan dan dialami di luar negeri bisa saja ikut menjadi faktor di dalam aktifitas alumni luar negeri tersebut. Apalagi ketika mereka belaÂjar di luar negeri mendapatkan doktrin Khusus dari profesornya, seperti disinyalir adanya kekuatan itu di dalam masyarakat. Jika demikian adanya, maka tidak ada cara terbaik selain memperkokoh pemaÂhaman dan penghayatan warga bangsa terhadap filosofi Pancasila. Mereka perlu diperkenalkan seÂcara komprehensif bahwa kelahiran Pancasila adaÂlah rahmat bagi bangsa Indonesia, bukannya laknat, sebagaimana pernah diperkenalkan oleh kelompok tertentu di dalam masyarakat.
Masalah agama adalah salahsatu faktor yang sangat sensitif di Indonesia. Ini dapat diÂmaklumi karena bangsa Indonesia termasuk penganut agama yang setia. Solidaritas agama biasanya mengalahkan ikatan-ikatan primordiÂal lainnya, seperti ikatan kesukuan dan ikatan kekerabatan. Oleh karena itu, penataan antar umat beragama dalam kerangka negara kesÂatuan Republik Indonesia perlu mendapatkan perhatian khusus.
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.