Ketua MPR: Kunci Merdeka Itu Bersatu, Lalu Berdaulat

Selasa, 18 Desember 2018, 13:58 WIB | Laporan: Faisal Aristama

Refleksi akhir tahun lembaga tinggi/RMOL

Tidak sedikit catatan kekurangan yang melekat pada lembaga tinggi negara selama setahun memimpin, termasuk di tubuh MPR RI. Kekurangan itu harus menjadi bahwa evaluasi agar kinerja MPR ke depan lebih dapat dirasakan masyarakat.

Begitu kata Ketua MPR RI Zulkifli Hasan merefleksi perjalanan satu tahun lembaga yang dipimpinnya di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/12).

Dia kemudian bercerita tentang 20 tahun reformasi yang banyak menorehkan keberhasilan bagi perbaikan bangsa. Pun demikian, tidak sedikit juga kekurangan yang ditemui dan harus diperbaiki.

"20 tahun reformasi ada yang berhasil dan tentu juga ada beberapa kekeurangan yang masih perlu diperbaiki," terangnya.

Dijelaskan Zulhas, sapaan akrabnya, MPR sebelum reformasi masih mempunyai wewenang dan kedudukan tertinggi.

"Dulu MPR paling tinggi, setelah amandemen, rakyat yang punya kedudukan paling tinggi," tegasnya.

Meski banyak kekurangan, Zulhas mengajak masyarakat Indonesia untuk mengingat bahwa bernegara adalah merdeka dan bersatu. Hal itu sesuai dengan amanat UUD 1945. Untuk itu, setiap kekurangan harus bersama-sama diperbaiki tanpa harus terpecah belah.

“Tujuan kita itu Indonesia merdeka tidak ada perubahan apapun. Merdeka, bersatu, berdaulat, adil dam makmur. Agar tetwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," tuturnya.

Lebih lanjut, Zulhas menambahkan bahwa kunci kemerdekaan adalah persatuan.

"Kalau mau merdeka harus bersatu, lalu berdaulat, maka akan tercipta keadilan sosial," pungkasnya.  [ian]
Tag:

Kolom Komentar


loading