KONSEP Ketuhanan YME dalam agama Buddha berÂbeda dengan konsep ketuÂhanan agama-agama lain, khususnya agama-agama samawi (Abrahamic ReliÂgions). Dalam kitab Sutta PiÂtaka, Udana VIII dijelaskan bahwa Ketuhanan YME daÂlam bahasa Pali adalah AtÂthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkhatam, subÂyek yang dipersepsikan sebagai Tuhan sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, tetapi keberadaanya maha mutlak. Kemahaesaannya tanpa "aku" (anatta), tidak dapat dipersonifikasikan, dan tidak dapat digamÂbarkan dalam bentuk apa pun. Keberadaannya tidak berkondisi (asankhata). Berbeda dengan makhluk seperti manusia berkondisi (sankhaÂta). Manusia yang berusaha untuk mencapai puncak kebebasan dari lingkaran hidup yang penuh kesesnaraan (samsara), harus aktif menjalankan meditasi, yaitu perenungan suci atau kontemplasi terhadap hakekat alam seÂmesta. Dalam kitab suci Tipitaka dijelaskan buÂkan hanya konsep ketuhanannya yang berbeda tetapi juga konsep asal-usul kejadian alam seÂmesta, manusia, dan kiamat, dan keselamatan atau pembebasan diri manusia.
Konsep ketuhanan dalam agama Buddha lebÂih bersifat non-teistik, yakni tidak menekankan keberadaan Tuhan sang pencipta atau berganÂtung kepada-Nya, tetapi bagaimana mengejahÂwentahkan sifat-sifat buddhisme. Buddha GauÂtama juga tidak dilukiskan sebagai Tuhan tetapi sebagai pembimbing atau guru yang menunÂjukkan jalan menuju nirwana. Buddha Gautama sendiri jarang menyebut kata Tuhan tetapi lebih menekankan pentingnya kesucian prilaku di daÂlam menjalani kehidupan. Mungkin dari segi ini kalangan ahli perbandingan agama ada yang melihat agama Buddha lebih menonjol sebagai ajaran moral belaka. Bahkan sejumlah khutbah Buddha Gautama cenderung penyembahan kepada banyak Tuhan atau dewa-dewi membeÂbani kebebasan manusia, meskipun pada sisi lain ia masih memberikan pengakuan terhadap Brahma sebagai Tuhan. Buddha Gautama perÂnah menyatakan bahwa biarkan Tuhan menjadi pencipta segala sesuatu, tetapi manusia harus memelihara kesucian ciptaan Tuhan. KesemÂpurnaan kesucian itulah inti ketuhanan dan keÂsucian itu harus ada pada setiap manusia.
Bagi agama Buddha, tujuan akhir hidup maÂnusia adalah mencapai kebuddhaan (
anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati diÂmana batin manusia tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Manusia tidak memerluÂkan bantuan atau pertolongan pihak lain, terÂmasuk dewa-dewi. Jika manusia ingin selamat, maka satu-satunya jalan ialah menjelmakan siÂfat dan sikap kebuddhaan di dalam dirinya. NaÂmun demikian, Buddha sendiri bukan Tuhan dan tidak pernah diklaim sebagai Tuhan dalam pengikut agama Buddha.
Agama Buddha tidak terlalu menekankan peran Tuhan sebagaimana halnya agama-agama besar lainnya. Agama Buddha lebih menekankan "pragamatisme" dalam arti menÂgutamakan tindakan-tindakan cepat dan tepat yang lebih diperlukan di dalam menyelamatkan hidup seseorang yang tengah mengalami probÂlem. Karena itu, budi pekerti selalu menjadi hal yang amat substansial dalam agama Buddha. Kolaborasinya dengan agama-agama lain lebih gampang karena agama Buddha tidak memiliki sistem birokrasi spiritual yang ribet sebagaimaÂna halnya agama-agama lain.
Bagi umat Buddha di Indonesia tidak perÂnah ada masalah dengan soal redaksi PanÂcasila, khususnya keberadaan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Meskipun agama Buddha tidak banyak menyinggung Tuhan daÂlam pengembangan misi ajarannya, tetapi tak seorang pun warga penganut agama Buddha mengingkari keberadaan Tuhan. ***
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.