Di antara pembicaraannya menggambarkan Masjid dan Mushalla di Chile, khususnya di SantiÂago, dirasakan sudah semakin sempit. Komunitas muslim di sini memiliki lembaga pendidikan inforÂmal dan non formal. Saat ini sedang menggagas untuk mendirikan sekolah formal lebih besar yang dapat menampung jumlah anak-anak muslim.
Islamic Center ini ramai sekali dikunjungi koÂmunitas muslim, terutama hari-hari libur. Mereka memiliki sistem informasi berbasis
on-line. SebeÂlum shalat Jum’at dimulai, diawali dengan penÂgajian/ceramah dan tanya jawab sampai masuk waktu shalat Jum’at. Seusai shalat Jum’at dilanÂjutkan semacam pendalaman dan tanya jawab dari khutbah yang disampaikan dalam bahasa Arab.
Mereka sangat mengapresiasi kehadiran kami di dalam center mereka. Mereka hanya mengikuti Indonesia melalui media-media elekÂtronik. Penulis berbincang dengan beberapa anak usia remaja di masjid, termasuk menanyaÂkan sekiranya ada tawaran beasiswa untuk stuÂdi ke Indonesia, tanpa berpikir panjang mereka menyatakan bersedia.
Image mereka terhadap Indonesia sangat positif. Bahkan mereka meÂnyejajarkan Indonesia dengan Korea, Jepang, dan China. Mereka mengenal Indonesia salah satu pengekspor pesawat terbang, dan salahÂsatu negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia. Hanya tiga Negara berpenduduk mayoritas muslim masuk di daÂlam Negara G-20, yaitu Turki, Indonesia, dan Saudi Arabia.
Situasi dan keadaan umat Islam di Chile menuÂrut warga masyarakat muslim di sana, bebas melakukan kegiatan keagamaan mereka. PemerÂintah mengapresiasi kegiatan keagamaan warÂganya yang mayoritas. Mereka melindungi dari berbagai gangguan sekaligus ikut secara intensif mewaspadai hadirnya kelompok-kelompok garis keras yang datang dari luar. Kebanyakan mereka dari kaum imigran khususnya dari Palestina, MaÂrocco, Pakistan, dan Arab.
Penulis juga mewawancarai sejumlah tokoh masyarakat di sana yang non-muslim. Kesan mereka sepertinya tidak ada masaalah dengan komunitas muslim. Mereka kawin-mawin denÂgan warga penduduk asli Chili. Agak berbeda dengan komunitas Israel yang beragama Yahudi dinilai lebih tertutup dan agak ekslusif. Tidak perÂnah kedengaran ada perkawinan lintas agama (Yahudi), berbeda dengan komunitas Arab dan muslim lainnya, bebas berkawin-mawin dengan warga penduduk asli. Salah seorang narasumÂber yang saya tanya tentang suasana keberagÂamaan di Chili, ia menjawab dengan lugas bahwa meskipun Negara kami berpenduduk mayoritas Katolik, tetapi dalam kenyataan riil masyarakat dan Negara banyak melakukan praktik yang seÂsungguhnya tidak sejalan dengan ajaran dan keyakinan mereka. Misalnya, agama Katolik tidak membenarkan perkawinan sejenis, tetapi di daÂlam masyarakat dilegalkan. Demikian pula ajaran Katolik sangat menentang aborsi, tetapi di dalam masyarakat dianggap biasa bahkan difasilitasi.
Masalah yang dihadapi komunitas muslim di Chile ialah keterbatasan sarana dan prasaraÂna keagamaan, mengingat umumnya komuniÂtas muslim di sana belum berada di dalam levÂel yang lebih baik secara ekonomi. Umumnya mereka kaum imigran yang bekerja sebagai pegawai upahan. Belum banyak jumlah mereÂka berada di dalam posisi ekonomi dan politik lebih baik.