Harapan Dunia terhadap Indonesia (2)

Pengalaman Di Chile (2)

Selasa, 25 Oktober 2016, 09:07 WIB
Pengalaman Di Chile (2)
Nasaruddin Umar/Net
DISELA-SELA acara konferensi XXI FORO IBEROAMERI­CANO, penulis menyempatkan diri untuk melaksana­kan shalat Jum’at di Masjid Al-Salam yang sekaligus Islamic Center terbesar di Chile. Bangunan ini berlan­tai empat, termasuk base­men dan mizaniumnya dan lumayan besar untuk menampung komuni­tas muslim di Kota Santiago. Penulis sempat berdiskusi dengan Imam Besarnya, Ust Sulay­man Essop Jada bersama para pengurus teras Islamic Center Al-Salam.

Di antara pembicaraannya menggambarkan Masjid dan Mushalla di Chile, khususnya di Santi­ago, dirasakan sudah semakin sempit. Komunitas muslim di sini memiliki lembaga pendidikan infor­mal dan non formal. Saat ini sedang menggagas untuk mendirikan sekolah formal lebih besar yang dapat menampung jumlah anak-anak muslim.

Islamic Center ini ramai sekali dikunjungi ko­munitas muslim, terutama hari-hari libur. Mereka memiliki sistem informasi berbasis on-line. Sebe­lum shalat Jum’at dimulai, diawali dengan pen­gajian/ceramah dan tanya jawab sampai masuk waktu shalat Jum’at. Seusai shalat Jum’at dilan­jutkan semacam pendalaman dan tanya jawab dari khutbah yang disampaikan dalam bahasa Arab.

Mereka sangat mengapresiasi kehadiran kami di dalam center mereka. Mereka hanya mengikuti Indonesia melalui media-media elek­tronik. Penulis berbincang dengan beberapa anak usia remaja di masjid, termasuk menanya­kan sekiranya ada tawaran beasiswa untuk stu­di ke Indonesia, tanpa berpikir panjang mereka menyatakan bersedia. Image mereka terhadap Indonesia sangat positif. Bahkan mereka me­nyejajarkan Indonesia dengan Korea, Jepang, dan China. Mereka mengenal Indonesia salah satu pengekspor pesawat terbang, dan salah­satu negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia. Hanya tiga Negara berpenduduk mayoritas muslim masuk di da­lam Negara G-20, yaitu Turki, Indonesia, dan Saudi Arabia.

Situasi dan keadaan umat Islam di Chile menu­rut warga masyarakat muslim di sana, bebas melakukan kegiatan keagamaan mereka. Pemer­intah mengapresiasi kegiatan keagamaan war­ganya yang mayoritas. Mereka melindungi dari berbagai gangguan sekaligus ikut secara intensif mewaspadai hadirnya kelompok-kelompok garis keras yang datang dari luar. Kebanyakan mereka dari kaum imigran khususnya dari Palestina, Ma­rocco, Pakistan, dan Arab.

Penulis juga mewawancarai sejumlah tokoh masyarakat di sana yang non-muslim. Kesan mereka sepertinya tidak ada masaalah dengan komunitas muslim. Mereka kawin-mawin den­gan warga penduduk asli Chili. Agak berbeda dengan komunitas Israel yang beragama Yahudi dinilai lebih tertutup dan agak ekslusif. Tidak per­nah kedengaran ada perkawinan lintas agama (Yahudi), berbeda dengan komunitas Arab dan muslim lainnya, bebas berkawin-mawin dengan warga penduduk asli. Salah seorang narasum­ber yang saya tanya tentang suasana keberag­amaan di Chili, ia menjawab dengan lugas bahwa meskipun Negara kami berpenduduk mayoritas Katolik, tetapi dalam kenyataan riil masyarakat dan Negara banyak melakukan praktik yang se­sungguhnya tidak sejalan dengan ajaran dan keyakinan mereka. Misalnya, agama Katolik tidak membenarkan perkawinan sejenis, tetapi di da­lam masyarakat dilegalkan. Demikian pula ajaran Katolik sangat menentang aborsi, tetapi di dalam masyarakat dianggap biasa bahkan difasilitasi.

Masalah yang dihadapi komunitas muslim di Chile ialah keterbatasan sarana dan prasara­na keagamaan, mengingat umumnya komuni­tas muslim di sana belum berada di dalam lev­el yang lebih baik secara ekonomi. Umumnya mereka kaum imigran yang bekerja sebagai pegawai upahan. Belum banyak jumlah mere­ka berada di dalam posisi ekonomi dan politik lebih baik. 

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA