Kejagung Minta BPK Hitung Kerugian Negara

Kasus Akuisisi Saham Simpatindo

Senin, 27 Juni 2016, 09:00 WIB
Kejagung Minta BPK Hitung Kerugian Negara
foto:net
rmol news logo Ketua BPK Harry Azhar Azis masih mempelajari permintaan dari kejaksaan itu. "Persoalan akuisisi (saham) tersebut masih dibahas secara internal. Kami belum bisa membeberkan lebih jauh," katanya.

Kasus akuisisi saham Simpatindo oleh Tiphone ini masih tahap penyelidikan di Kejagung. Akuisisi itu menggunakan da­na dari hasil penjualan sahamTiphone kepada PT PINS Indonesia, anak usaha Telkom.

Tiphone diduga memper­oleh keuntungan dari penjualan sahamkepada PINS Indonesia, serta keuntungan bisnis dari pencaplokan Simpatindo.

Sebelumnya, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Arminsyah mengatakan, pihaknya masih me­neliti berbagai dokumen mengenai akuisisi Simpatindo oleh Tiphone.

Untuk menemukan indikasi dugaan korupsi, jaksa di gedungbundar telah meminta keterangan dari pihak terkait. "Persoalan ini mesti diselidiki dengan teliti," katanya.

Direktur Penyidikan JAM Pidsus, Fadil Zumhana senada. Kejagung telah meminta keterangan dari Achmad RK men­genai akuisisi Simpatindo oleh Tiphone.

Pemanggilan Achmad RK atas perintah dari Fadil lewat surat panggilan bernomor 24/F.2/ FD.1/02/2016 yang diterbitkan Februari lalu.

Kejaksaan masih memperkirakandugaan kerugian negara berdasarkan dokumen yang diperoleh dan keterangan dari saksi. "Sedang diperhitungkan oleh penyidik berapa taksiran dugaan kerugian negara dalam kasus itu," kata Fadil.

Untuk mendapatkan perhi­tungan resmi mengenai dugaan kerugian negara dalam perkara ini, kejaksaan meminta bantuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). "BPK yang akan me­nentukan ada atau tidak kerugian negara," tandas Fadil.

Tiphone mengakuisisi Simpantindo pada kuartal pertama 2015. Tiphone membeli 99,5 persen saham Simpatindo dengan harga 32 juta dolar Amerika.

Simpatindo didirikan pada 2002. Berada di bawah Grup Sarindo, perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran produk-produk Telkom-Telkomsel.

Simpatindo merupakan distributor produk Telkom-Telkomsel yang memiliki jaringan ter­luas. Penopang utama pendapatan Simpatindo berasal dari penjualan voucher isi ulang pulsa.

Sebelum mengakuisisi Simpatindo, Tiphone menjual saha­mnya kepada PINS Indonesia. Tiphone dalam keterbukaan in­formasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI) 15 September 2014 me­nyampaikan, PINS Indonesia resmi menguasai 1,11 miliar atau 15 persen saham Tiphone.

Nilai saham Tiphone yang dibeli PINS Indonesia Rp 876,7 miliar. Pembelian saham Tiphone dilakukan lewat Boquete Group SA, Interventures Capital Ltd, PT Sinarmas Asset Management, dan Top Dollar Investment Ltd.

Perjanjian jual-beli sahamditandatangani pada 11 September 2014. Selanjutnya, PINS bakal membeli 10 persen saham Tiphone melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD).

Untuk pembelian 25 persen saham Tiphone, PINS Indonesia mengeluarkan dana hingga Rp 1,39 triliun. Dana segar inilah yang dipakai Tiphone untuk mengakuisisi Simpatindo dan menambah gerai reseller di se­luruh Indonesia.

Direktur Utama Tiphone Tan Lie Pin menyatakan perseroan telah mengikuti segala peraturan terkait corporate action akusisi saham Simpatindo. "Kami sudah mengikuti semua peraturan, baik Otirutasa Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Kami sudah hadirkan semua pendukung termasuk auditor dan lain-lain, sehingga kami yakin akuisisi Simpatindo tidak ada yang salah," jelasnya dalam konferensi pers di Jakarta, pe­kan lalu.

Lebih lanjut, dia menuturkan, pihaknya meyakini bakal tidak akan ada timbul masalah ke depan terkait akuisisi ini. Sebab, OJK dan BEI tidak pernah mem­permasalahkan akuisisi tersebut. "Yang jelas, kami telah mengi­kuti semua peraturan yang ada," tandasnya.

Kilas Balik
Dicurigai, Penjualan Saham Tiphone Ke Anak Usaha Telkom


Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) menuntaskan akuisisi 99,5 persen saham PT Simpatindo Multi Media (SMM) senilai 32 juta dolar Amerika atau sekitar Rp 400 miliar pada Januari 2015.

Direktur Utama Tiphone, Tan Lie Pin dalam keterbukaan informasi terhadap Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkap­kan, akuisisi saham Simpatindo dilakukan melalui penyerapan 50 ribu waran atas penerbitan saham baru dari Simpatindo.

"Kami sudah tandatangani sale and purchase of warrant agree­ment pada 22 Januari 2015 dengan Paragon Paper Limited terkait pembelian dan pengalihan waran atas penerbitan 50 ribu saham baru dalam SMM," sebutnya.

Tiphone, lanjut Tan, juga te­lah mengeksekusi waran untuk memperoleh 50 ribu saham baru Simpatindo. Pelaksanaan waran telah disetujui rapat umum pemegang saham (RUPS) Simpatindo pada 22 Januari 2015.

Adapun, harga pembelian waran tersebut sebesar 32 juta dolar Amerika dan total harga pelak­sanaan waran untuk memperoleh 50 ribu saham baru Simpatindo sebesar Rp 50 miliar.

Analis dari Bahana Sekuritas Leonardo Henry Gavaza berpendapat akuisisi saham Simpatino membuat saham Tiphone terdongkrak sampai Rp 1.160 per lembar. Sebab, Tiphone makin lengket dengan Telkom.

Dalam kajiannya, Tiphone diperkirakan bakal mencatat pendapatan Rp 18 triliun dengan keuntungan Rp 412 miliar di penghujung 2015.

Dengan akuisisi penuh sa­ham Simpatindo, Tiphone bisa mendongkrak bisnis distribusi voucher isi ulang pulsa. Tiphone juga memperkuat jaringan re­seller dari 200 ribu menjadi 300 ribu reseller setelah memperoleh dana segar dari penjualan saham kepada PT PINS Indonesia, anak usaha Telkom.

Sumber dana untuk men­gakuisisi Simpatindo berasal pelepasan saham minoritas Tiphone kepada PINS Indonesia. Dari pelepasan 25 persen saham ini, Tiphone memperoleh dana Rp 1,39 triliun.

Pelepasan saham ini sempat akan diawasi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) lantaran bisa menyebabkan persaingan dis­tribusi pulsa yang tidak sehat.

Dengan akuisisi Simpatindo, Tiphone menguasai distribusi voucher dan produk multimedia. Sebab, Simpatindo adalah penjual voucher pulsa elektronik beberapa operator seluler. Simpatindo juga dealer pulsa resmi produk seluler Telkom yakni Telkomsel dan Telkom Flexi.

Akuisisi Simpatindo ibarat "jalur pembuka" bagi grup Telkom untuk semakin menggen­jot kinerja bisnisnya pada sek­tor distribusi pulsa. Selain itu, Tiphone berencana mengkombi­nasikan bisnisnya dalam pengadaan produk smartphone ke beberapa vendor ternama.

Belakangan terkuak, berdasar­kan laporan kinerja keuangan perseroan per kuartal I/2015 ke BEI, pendapatan voucher men­capai Rp 2,41 triliun dari total pendapatan bersih Tiphone Rp 4,05 triliun.

Adapun beban pokok penjualan bisnis voucher perseroan senilai Rp 2,27 triliun. Sehingga diperoleh laba kotor Rp 136,4 miliar. Dari sini, margin laba kotor Tiphone sebesar 5,66 persen. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA