Kami tidak begitu saja percaya dengan kabar itu, meski dari pihak Wahidin dan pihak Atut tidak pernah membantahnya. Saking bersemangatnya, Wahidin dikabarkan sampai beberapa kali menemui Atut di penjara Tangerang.
Benarkah Wahidin sudah banting-setir merapat ke kelarga Atut? Bukankah dulu, waktu dia masih menjadi walikota Tangerang dan Atut gubernur Banten, Wahidin tergolong sangat kritis dan cenderung galak ke pemerintah provinsi? Benarkah dalam soal ini berlaku ungkapan bahwa, "dalam politik tidak ada lawan dan kawan yang abadi yang ada adalah kepentingan abadi?"
Sungguh tidak mudah dipercaya kabar bahwa Wahidin sudah saling menaklukkan dengan keluarga Atut. Kenapa? Pertama, Wahidin selama ini dikenal sebagai tokoh yang berpendirian sangat kuat. Kedua, Wahidin memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. Ketiga, dia selalu berkeinginan menciptakan pemerintahan bersih dan tidak mau terbebani image negatif. Keempat, Wahidin bukan tokoh yang gampang mengubah haluan untuk mencari-cari pengaruh. Kelima, dia tidak mau terkena image tergantung pada orang lain.
Maka, manakala kabar pertama tadi terkonfirmasi benar, berarti sudah ada yang berubah pada diri Wahidin Halim. Pertama, Wahidin percaya bahwa trah keturunan Atut memiliki kekuatan dan pengaruh sangat besar, dan karena itu tak mungkin ditinggalkan apalagi dimusuhi. Kedua, kepercayaan diri Wahidin mulai turun, mungkin saja karena dia sudah lama tidak menjabat dan jaringannya sudah mulai kendor.
Tapi, sebenarnya Wahidin masih punya daya jual tinggi. Namanya selalu muncul menjadi tiga besar dalam survei dengan popularitas dan elektabilitas tertinggi. Namanya juga harum sebagai pejabat yang bersih. Punya catatan prestasi yang membanggakan terutama untuk gebrakan Akhlakul Karimah, dan pendidikan. Wahidin juga tokoh kharismatik, terutama untuk pemilih tradisional.
Untuk kawasan Tangerang Raya, nama Wahidin sangatlah familier. Ini penting untuk disebut karena Tangerang Raya adalah 60 persen-nya Banten. Ini juga kawasan modern-nya Banten yang di dalamnya terdapat pusat-pusat perkembangan perdagangan, industri, perumahan, dan pendidikan khususnya perguruan tinggi.
Hidupnya sederhana, Wahidin jauh dari dunia hingar bingar. Ketika memimpin, sasaran yang sering dikunjungi adalah tempat ibadah, sekolah, proyek-proyek pembangunan, dan alim ulama. Wahidin juga jauh dari kesan bergelimang harta, dan tidak mau mencari pengaruh dengan mengandalkan uang. Modal utama Wahidin adalah dirinya sendiri, pribadinya. Bukan barang dan bukan orang yang di luar dirinya. Tamu-tamu yang datang ke rumahnya selalu disuguhi keramahan, senyum, pitutur yang baik, dan keyakinannya untuk memimpin.
Pikirannya simpel tidak bertele-tele. Dia anti berpura-pura. Wahidin juga tidak takut berkata terus terang dan mengambil keputusan tegas meski terkadang membuat orang tidak nyaman. Itulah Wahidin yang selama ini kita kenal. Sudahkah dia berubah untuk sebuah kepentingan dan tantangan baru?
Masyarakat rupanya perlu mengenal kembali Wahidin, setelah sekian lama tidak menjadi pejabat publik. Dia perlu melakukan pemanasan ulang. Perlu melakukan gebrakan-gebrakan besar untuk membangunkan dan mengencangkan kembali jaringannya. Perlu "nge-charge baterei" untuk menerangkan sinar dan menguatkan sinyal.
(Bersambung Senin depan)
BERITA TERKAIT: