Dalam aksinya, pria yang bernama Pahruddin Hasibuan ini melakukan aksi tutup mulut sambil bertelanjang dada. Sementara di dadanya terpampang secarik kertas bertuliskan: "Korban percobaan pembunuhan pembunuhan akibat melaporkan kasus korupsi".
"Kawan saya ini korban, bahkan hampir mati ditikam karena diduga kuat setelah melaporkan kasus korupsi," teriak seorang temannya, yang berorasi di sebelahnya.
"Lihat tuh," sambungnya sambil menunjuk bekas jahitan sepanjang 25 Cm pada bagian perut sebelah kanan Pahruddin. (Baca:
Aktivis Antikorupsi Ditikam Bulan Lalu, Sampai Sekarang Pengusutannya Belum Jelas)
Dalam aksi tersebut, mereka memang mendesak KPK untuk menindaklanjuti dugaan korupsi Bantuan Dana Bawahan (BDB) di Labusel. Kasus tersebut sudah dilaporkan ke KPK pada 9 Juni 2014 lalu setelah Kepolisian setempat dinilai tak serius menggarapnya. "KPK juga sampai saat ini tidak menanganinya," tegas Pahruddin setelah membuka lakban di mulutnya.
Tak lama setelah berorasi, mereka lalu dipanggil bagian Penerimaan Laporan KPK. Kepada keduanya, pihak KPK berjanji akan mengambil alih kasus tersebut kalau tidak ditindaklanjuti Kepolisian.
"Kami akan melakukan supervisi," kata Ketua Forum Bela Rakyat Indonesia (FBRI) ini menirukan janji pegawai KPK tersebut usai pertemuan.
Selain ke KPK, pada Selasa (13/10) kemarin, Pahruddin juga melaporkan kasus penusukan yang ia alami ke Mabes Polri. Pasalnya, kasus penikaman pada 19 Agustus 2014 lalu tersebut sampai saat ini tidak jelas penangannya.
[zul]
BERITA TERKAIT: