Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Yang Dibutuhkan KPK Komandan Perang, bukan Perempuan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/febiyana-1'>FEBIYANA</a>
LAPORAN: FEBIYANA
  • Senin, 22 Juni 2015, 20:42 WIB
Yang Dibutuhkan KPK Komandan Perang, bukan Perempuan
rmol news logo . Abdullah Hehamahua menilai calon pimpinan (Capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke depan harus siap untuk perang. Oleh karena itu mantan penasehat KPK ini masih meragukan perempuan menjadi pimpinan di lembaga antirasuah itu.

"Saya bukan anti sama wanita anti anti perempuan, ibu saya perempuan dan saya laki-laki normal, anak saya juga perempuan, tapi ini yang dipilih bukan presiden, mentri atau bukan gubernur dan rektor, yang dipilih komandan perang," jelas Abdullah di gedung KPK, Jakarta Selatan, Senin (22/6).

KPK, lanjut dia, musuhnya banyak, sehingga yang terpilih nanti sebagai capim KPK harus komandan perang. Tentunya, itu belum dapat dikuasai oleh wanita.

"Koruptor itu musuh besar, sehingga harus perang. Ada perbedaan komposisi filosofi, dalam hal tertentu perempuan lebih berhasil dari laki-laki, cermat, teliti. Tapi dalam hal tertentu perempuan tidak bisa menyaingi laki-laki, itu persoalanya," terangnya.

"Saya sarankan jangan dulu, keculai periode mendatang itu sudah smooth baru (maju)," sambungnya.

Apalagi, saat ini KPK mendapatkan serangan dari dua kubu partai koalisi yang ada di pemerintahan, KMP (Koalisi Merah Putih) dan KIH (Koalisi Indonesia Hebat). Itu terjadi pasca ditetapkannya Wakapolri, Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka.

"Sebelum kasus BG, KIH dan KMP seperti kucing dan tikus. Begitu kasus BG datang selesai satu hari selesai (dalam waktu sehari KMP dan KIH mendukung BG), KPK dianggap musuh bersama," sindir Abdullah. [sam]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA