"Selamat datang di Sumatera Barat," ujar Kepala Kesbangpol Irvan Kairo Amanda yang mewakili Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. Acara yang diselenggarakan pada hari Jumat itu menurut Irvan bisa memberi kontribusi yang positif untuk menyikapi kondisi bangsa akhir-akhir ini.
Menurut Irvan bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan beragam penduduknya. Kebesaran dan keberagaman itu bila dikelola dengan baik akan memberikan manfaat yang besar bagi semua, namun bila tidak, maka kebesaran dan keberagaman itu bisa meruntuhkan. "Inilah kekhawatiran kita," ujarnya.
Runtuhnya bangsa ini menurut Irvan juga akibat dari dampak negatif reformasi dan globalisasi. "Bila kita tidak bisa memanfaatkan era reformasi dan globalisasi maka nilai-nilai itu bisa merusak tatanan sosial, budaya, dan nilai positif lain yang telah ada," kata Irvan.
Nilai reformasi dan globalisasi yang buruk dan berkembang saat ini seperti maraknya peredaran narkoba dan berkembangnya paham-paham radikal. "Untuk itu perlu kewaspadaan kita," ujarnya. Ditambahkan oleh Irvan, berkembangnya paham-paham radikal seperti ISIS bisa memecah persatuan dan kesatuan bangsa.
Ditegaskan oleh Irvan bahwa pemerintah menentang peredaran narkoba dan berkembangnya paham radikal. "Bila kita memahami agama secara benar maka kita tak akan terjebak pada paham-paham itu," ujarnya. "Mereka yang mengedarkan narkoba dan terlibat gerakan ISIS harus ditindak tegas," ujarnya.
Pemprov Sumbar disebut terus membentengi masyarakat dengan nilai-nilai budaya dan adat. Tak hanya itu secara konseptual Sumbar komitmen untuk menciptakan tatanan masyarakat yang harmonis.
Dalam kesempatan itu Mahyudin merasa bangga bisa datang ke Ranah Minang. "Ini pertama kali saya ke Sumatera Barat," ujarnya. Dikatakan bahwa kedatangannya selain untuk bersilaturahmi juga untuk mensosialisasikan Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Sosialisasi nilai-nilai itu disebut Mahyudin sangat penting seperti yang dikatakan oleh Kepala kesbangpol tadi. Untuk mencegah paham-paham radikal. Dalam sosialiasi ini MPR juga meminta kepada pemerintah ikut mensosialisasikan.
Guru-guru sekolah pun menurut Mahyudin juga menginginkan agar sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika diiberikan kembali kepada anak-anak sekolah. "Semua dilakukan untuk menguatkan moral," ujarnya.
Untuk menguatkan moral itulah maka MPR giat turun-turun ke kampus, pondok pesantren, dan daerah-daerah.
[rus]
BERITA TERKAIT: