Menurut pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, keputusan Presiden Joko Widodo yang mengajukan Badrodin Haiti sebagai calon Kapolri dan mengangkat Taufikuraman Ruki, Indriyanto Seno Adji dan Johan Budi sebagai pengganti Abraham Samad dan Bambang Widjoyanto sebagai pimpinan sementara KPK sanggup meredakan kecemasan akibat perseteruan KPK versus Polri.
Ari, yang sejak awal sangat konsisten memprediksikan Jokowi tidak akan mungkin melantik Budi Gunawan sebagai Kapolri, menilai keputusan ini tentu didasarkan analisa dan kalkulasi politik Jokowi yang cerdas. Jokowi pasti mendengar keberatan yang disuarakan masyarakat sekaligus risau dengan gesekan yang makin tajam antara KPK dengan Polri serta kerugian politik, ekonomi dan sosial akibat kengototan mencalonkan Budi Gunawan.
"Pasti Jokowi akan mengambil langkah yang paling kecil resikonya dengan membatalkan pencalonan ketimbang harus menghadapi arus deras perlawanan publik," kata Ari Junaedi kepada
Kantor Berita Politik RMOL beberapa saat lalu (Kamis, 19/2).
Menurut pengajar mata kuliah Humas Politik di Program Sarjana UI ini, Jokowi pasti akan menugaskan Badrodin Haiti untuk menurunkan tensi friksi Polri dengan KPK. Agar BG tidak kehilangan muka, frasa yang digunakan Jokowi adalah meminta BG untuk tetap memberikan konstribusinya bagi Polri.
"Ini langkah yang jitu untuk mengeliminir kekecewaan BG dan para pendukungnya," ungkap Ari, yang juga dosen Program Pascasarjana di UI dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Sementara penonaktifan Samad dan Bambang Widjoyanto, lanjut Ari, tidak terlepas dari kiat Jokowi untuk melepaskan mereka dari pusaran perseteruan dengan Polri. Bisa jadi di bawah Kapolri yang baru, akan keluar perintah penghentian perkara atas kasus yang menimpa Samad dan Bambang Widjoyanto.
"Ibarat dalang, Jokowi bermain cantik dan telah mengakhiri permainan wayang dan penonton dibuat senang. Semua tokoh telah dimainkan dan kisah cerita menjadi indah untuk dikenang," demikian Ari.
[ysa]
BERITA TERKAIT: