Demikian disampaikan Teguh Juwarno, anggota Steering Committee (SC) dari Annual 2015 Session of the Parliamentary Conference on the WTO (PCWTO), di Geneva, Switzerland (Selasa, 17/2). Pandangan terkait pentingnya solusi permanen untuk isu ketahanan pangan di WTO ini ditegaskan Teguh dalam debat interaktif dengan tema Trade as an Enabler of Peace and Better Living Conditions, Selasa (17/2).
"Hampir 60 persen masyarakat Indonesia menggantungkan hidupnya di sektor pertanian. Solusi permanen terhadap ketahanan pangan diperlukan, agar para petani mendapatkan manfaat dari kebijakan perdagangan itu," ungkap Teguh.
Dalam keterangan kepada redaksi, Teguh mengatakan dalam acara ini DPR memberikan warna dalam pembahasan draf hasil PCWTO melalui dukungannya terhadap usulan India yang menolak aksi unilateral terhadap impor barang-barang dan jasa dengan alasan perlindungan lingkungan.
Draf dokumen hasil PCWTO tersebut juga mengapresiasi agenda Ministerial Meeting WTO di Bali 2013 lalu yang sukses memberikan sejumlah hasil positif sebagai langkah maju dalam memecah kebuntuan putaran Doha, sekaligus menekankan pentingnya agenda-agenda negosiasi untuk merumuskan Post-Bali Work Programme.
[ysa]
BERITA TERKAIT: