Begitu keyakinan sementara orang yang percaya ada politik di balik politik, atau
deep politic.
Deep politic adalah faktualisasi atau obyektifikasi bagi sementara orang yang mau meyakinan pihah-pihak yang tak percaya teori konspirasi. Sebab bagi sementara orang, teori konspirasi itu seksi namun cuma imajinasi.
Dengan kerangka dan paradigma
deep politic ini, ada sementara orang yang percaya Basuki Tjahja Purnama sedang bermain drama. Lawan main drama Ahok, begitu Basuki disapa, tak lain adalah Gerindra. Panggungnya adalah RUU Pilkada. Penontonnya adalah publik Indonesia, terutama yang terlanjur percaya Ahok memang kutu loncat.
Tujuan drama yang dimainkan adalah mengisi kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta. Dengan drama ini, Gerindra mau mengatakan, Ahok bukan lagi representatif Gerindra, sehingga Gerindra punya hak juga mengajukan wakil gubernur baru, bukan hanya PDI Perjuangan.
Dengan panggung semacam ini, Gerindra punya tiga kemenangan. Mendapat gubernur, mendapat wakil gubernur, dan juga mengganggu posisi Jokowi di pentas nasional. Untuk kemenangan poin ketiga memang perlu penjelasan lebih detail lagi karena harus disertai dengan variabel yang lain.
Begitulah keyakinan sementara orang, yang juga begitu percaya tak mungkin Ahok berani melawan Prabowo. Tentu saja bisa benar, bisa juga tidak. Namun satu hal yang pasti, politik selalu dramatik dengan melahirkan korban kaum-kaum fanatik yang memandang politik selalu hitam dan putih.
[ysa]
BERITA TERKAIT: