Sekolah Tinggi, Disiplin Rendah: Catatan Hardiknas

Sabtu, 02 Mei 2026, 22:38 WIB
Sekolah Tinggi, Disiplin Rendah: Catatan Hardiknas
Siti Napsiyah. (Foto: Istimewa)
TULISAN ini ingin saya awali dengan mengambil peristiwa tabrakan KAI dengan KRL di Bekasi dan berbagai informasi viral lain dari perilaku orang yang mencoba menerobos rel kereta.

Karena setiap kali palang kereta tertutup dan sirine berbunyi, seharusnya siapapun yang berada di sana berhenti. 

Namun yang sering terjadi justru sebaliknya ada yang mempercepat laju, menerobos, bahkan mempertaruhkan nyawa. Di titik ini, pendidikan kita sedang diuji, bukan di ruang kelas, melainkan di hadapan pilihan paling mendasar: taat atau nekat.

Hari Pendidikan Nasional semestinya menjadi ruang muhasabah. Bukan sekadar merayakan angka partisipasi sekolah atau deretan gelar akademik, tetapi bertanya dengan jujur tentang mengapa banyak orang yang terdidik masih gagal untuk tertib?

Di ruang publik—di perlintasan kereta, pintu stasiun, dan jalan raya jawaban itu tampak nyata. Penumpang berdesakan sebelum yang lain turun. Pengendara menerobos palang. Sebagian memilih menyeberang rel, seolah waktu lebih berharga daripada keselamatan.

Hari Pendidikan nasional seharusnya bukan sekedar seremoni. Ini momen untuk saling menyadari bahwa Pendidikan tinggi harus berdampak pada setiap orang agar disiplin dalam hal paling sederhana. 

Peristiwa kecelakaan kereta di Bekasi baru-baru ini semakin menegaskan hal itu. Tragedi semacam ini terlalu sering kita sebut sebagai musibah, padahal sebagian di antaranya adalah hasil dari kebiasaan yang dibiarkan.

Max Weber dalam Economy and Society (1922) menjelaskan bahwa tindakan manusia idealnya berlandaskan rasionalitas nilai dan tujuan. Namun dalam praktik sehari-hari, kita kerap bertindak sebaliknya, yaitu tergesa-gesa, emosional, dan abai.

Kita tahu aturan. Kita paham risiko. Kita mengerti bahwa kereta tidak bisa berhenti mendadak.

Namun pengetahuan itu berhenti di kepala—tidak turun menjadi perilaku.

Di sinilah pendidikan kita perlu bercermin. Ia berhasil membuat orang tahu, tetapi belum sepenuhnya membentuk kemauan untuk berbuat benar dan patuh.

James Q. Wilson dan George L. Kelling melalui Broken Windows Theory (1982) mengingatkan bahwa pelanggaran kecil yang dibiarkan akan melahirkan pelanggaran yang lebih besar. Ketika menerobos palang dianggap biasa, maka kecelakaan hanya soal waktu.

Kita terlalu sering memaklumi: “cuma sebentar”, “yang penting selamat”. Tanpa sadar, kita sedang merawat budaya permisif—budaya yang mengikis ketertiban sedikit demi sedikit.

Belajar dari berbagai kecelakaan kereta, termasuk di Bekasi, kita tidak bisa lagi menyederhanakan semuanya sebagai takdir semata. Banyak di antaranya adalah akumulasi dari kelalaian yang berulang.

Adab sebagai Inti Pendidikan

Dalam tradisi Islam, dikenal prinsip al-adabu fauqal ‘ilmi—adab berada di atas ilmu. Imam Malik mengingatkan, “Pelajarilah adab sebelum ilmu.” Pesan ini terasa semakin relevan hari ini.

Menahan diri di depan palang kereta bukan sekadar kepatuhan teknis, tetapi latihan iman. Menghormati antrean adalah bentuk keadilan. Menjaga keselamatan diri dan orang lain adalah tanggung jawab moral.

Dalam kerangka maqashid syariah, menjaga jiwa (hifz al-nafs) adalah tujuan utama. Maka tindakan yang membahayakan, sekecil apa pun, bukan hanya pelanggaran aturan, tetapi juga pelanggaran nilai.

Rasulullah SAW bahkan menyebut menyingkirkan gangguan dari jalan sebagai bagian dari iman. Lalu bagaimana dengan tindakan yang justru menghadirkan bahaya di jalan?

Pendidikan sebagai Jalan Peradaban

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi titik balik. Pendidikan tidak cukup berhenti pada transfer ilmu, tetapi harus menjadi proses pembentukan manusia beradab.

Sekolah, kampus, dan pesantren perlu menjadi ruang pembiasaan nilai: disiplin, sabar, dan menghargai orang lain. Kita membutuhkan literasi sipil—kesadaran bahwa ruang publik adalah amanah bersama.

Namun pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang formal. Ia hidup dalam keseharian. Dalam cara kita berkendara, menunggu, dan berinteraksi. Setiap tindakan adalah pelajaran yang dilihat dan ditiru.

Hari Pendidikan Nasional harus menjadi titik balik. Pemerintah perlu menegakkan aturan tanpa kompromi. Lembaga pendidikan harus berani membentuk perilaku, bukan sekadar mengukur nilai. 

Orang tua harus memberi teladan. Dan kita, sebagai warga, harus berhenti mencari celah untuk melanggar.

Karena peradaban tidak runtuh karena kurangnya orang pintar, melainkan karena terlalu banyak orang yang tahu, tetapi memilih tidak patuh. Jika kita masih gagal tertib di jalan, maka yang bermasalah bukan hanya lalu lintas—tetapi pendidikan kita. 

Dan jika pendidikan belum mampu menyelamatkan manusia dari kelalaian yang berulang, maka yang perlu kita perbaiki bukan sekadar kurikulum, melainkan cara kita memahami makna menjadi manusia.rmol news logo article

Siti Napsiyah
Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA