Dimulai dari bubarnya Yugoslavia, perang bersenjata di Bosnia yang ditinggali oleh tiga kelompok keagamaan utama: Muslim Bosnia, Ortodok Serbia dan Katolik Kroasia menjadi tak terhindarkan. Yang paling memilukan tentu saja tragedi pembantaian Srebrenica, dimana ada sekitar 8 ribuan muslim Bosnia baik laki-laki, perempuan, anak-anak hingga jompo yang dihabisi tanpa ampun oleh tentara Serbia.
Akhirnya, negara Yugoslavia bubar. Bosnia luluh lantak. Tangisan kehilangan terdengar di seluruh penjuru negeri dan dilanjutkan dengan pembukaan lahan pemakaman massal bagi para korban perang yang diperkirakan mencapai setengah dari seluruh populasi negara. Jika melihat kondisi Bosnia pasca perang, tak akan ada yang menyangka jika 18 tahun kemudian, timnas Bosnia, yang hampir semua skuadnya mengalami sendiri situasi perang akan berlaga di ajang sepakbola terbesar dan paling bergengsi, Piala dunia Brazil 2014.
Skuad timnas Bosnia juga memiliki catatan apik sepanjang kualifikasi. Bertengger sebagai pemuncak grup G, mereka juga membukukan 23 gol dari enam pertandingan -gol terbanyak dibanding tim manapun-, dan masih tak terkalahkan di ajang kualifikasi piala dunia sejak negara kecil itu mendeklarasikan kemerdekaannya.
Anak-anak asuhan pelatih Safet Susic memang cukup menggentarkan lawan. Di posisi penyerang, Susic memiliki striker andalan Manchester City, Edin Dzeko dan striker Stuttgart, Vedad Ibisevic. Di posisi pemain tengah, Bosnia diperkuat dengan pemain AS Roma, Miralem Pjanic dan Asmir Begovic, penjaga gawang yang bermain di Stoke City siap menjaga garda terakhir pertahanan.
"Beberapa tahun lalu, tak ada yang bisa membayangkan bahwa etnis Bosnia-Serb atau Bosnia-Croat akan mendukung satu tim di bawah nama Bosnia," ujar Susic, yang sebelum perang terjadi pernah membela Yugoslavia di Piala Dunia 1982 dan 1990.
Hampir semua pemain Timnas Bosnia bisa mengingat dengan baik tragedi perang yang terjadi di negaranya. Sebut saja striker andalan Manchester City, Edin Dzeko yang terpaksa kehilangan rumahnya karena dibombardir tentara Serbia.
"Keluargaku memutuskan untuk tinggal di Sarajevo. Umurku masih enam tahun ketika perang terjadi dan kejadiannya sangat mengerikan. Rumahku dihancurkan jadi aku harus tinggal dengan kakek-nenekku disuatu apartemen yang sangat kecil, bersama 15 orang lainnya," ulas Dzeko.
Jika Dzeko memilih tinggal, maka penjaga gawang Asmir Begovic memutuskan untuk menyelamatkan diri bersama keluarganya ke Kanada.
"Aku mendapat kesempatan untuk membela timnas Kanada, tapi keluargaku tidak pernah menonton pertandingan sepakbola timnas mereka. Sebaliknya, seluruh keluarga akan berkumpul untuk menonton pertandingan timnas Bosnia. Akhirnya, keluarga adalah identitas terkuat. Aku bisa saja bermain untuk timnas Kanada, tapi Bosnia menarikku lebih kuat," ujarnya.
Pelatih timnas Bosnia pertama, Fuad Muzurovic juga memiliki pengalaman yang menggetarkan. Saat itu masih di tahun 1995, Muzurovic harus mempersiapkan timnya yang akan memainkan pertandingan persahabatan melawan Albania.
"Waktu itu, pertandingannya berlangsung hanya sembilan hari setelah perjanjian Dayton (perjanjian yang mengakhiri perang Bosnia). Saya masih ingat ketika tim kami tidak memiliki perlengkapan hingga kami harus membeli dulu di sebuah toko olahraga kecil di Zagreb. Kami juga kekurangan pemain, hingga saya bicara pada para asisten bahwa jika tidak ada pemain lain, saya dan mereka harus bermain. Kami hanya ingin punya timnas. tak peduli hasilnya, tak peduli skuadnya, tak peduli bagaimana penampilannya."
Akhirnya Bosnia kalah 2-0. Namun siapa sangka 18 tahun kemudian Dzeko dkk telah menggenggam tiket ke gelaran pesta sepakbola paling bergengsi di jagat raya, Piala Dunia Brazil. Tidak sebagai Muslim Bosnia, Croat Bosnia atau Serb Bosnia, tapi sebagai Bosnia Herzegovina.
"Bosnia adalah negara baru, kehidupan baru dan cita-cita yang baru" tutup Begovic dengan optimis
.[***]
BERITA TERKAIT: