Jurgen Klinsmann, di Balik Identitas Sepakbola Jerman

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/haifa-inayah-5'>HAIFA INAYAH</a>
OLEH: HAIFA INAYAH
  • Kamis, 29 Mei 2014, 13:59 WIB
Jurgen Klinsmann, di Balik Identitas Sepakbola Jerman
Jurgen Klinsmann/net
TERBIASA menjadi superior dalam segala hal, penampilan timnas sepakbola Jerman di Euro 2000 sudah pasti menjadi momok memalukan bagi negara kaya itu. Bagaimana tidak, waktu itu der panzer berada di posisi paling bontot dan tidak lolos penyisihan grup, tanpa satupun gol atau kemenangan.

Jerman, tentu saja, tidak biasa menghadapi kondisi seperti ini. Sejak tahun 1954 di era Fritz Walter, Franz Backenbauer hingga era 90-an dengan bintangnya Lothar Matthaus, Jerman akrab dengan kemenangan. Dominasi Jerman tak terbendung di tahun 90-an dengan memborong tropi seperti European Championship di tahun 1992, perempat final piala dunia 1994 dan pemenang Euro 1996.

Setelah masa keemasan itu, sepakbola Jerman mulai mengendur. Tampak jelas bahwa tak ada generasi muda yang bisa melanjutkan catatan apik Lothar Matthaus, Jurgen Klinsmann dan Matthias Sammer. Setelah untuk pertama kalinya dalam 75 tahun tak lolos dari kualifikasi grup di Euro tahun 2000 dan mendapatkan hasil yang sama empat tahun kemudian, semuanya mendadak jelas dan mengerikan: dominasi sepakbola Jerman telah tamat.

Bukan Jerman namanya jika negara itu tak bisa bangkit dari keterpurukan. Adalah Jurgen Klinsmann, mantan pemain timnas Jerman yang pernah merasakan manisnya Piala Dunia di tahun 1990 yang datang dan menemukan satu hal fundamental yang ternyata telah begitu lama hilang dari sepakbola Jerman: identitas permainan.

"Aku mendapat kesempatan utuk merubah arah permainan dan bekerja bersama Joachim Loew sebagai asisten. Kami langsung menemukan satu hal yang sangat diperlukan. Regenerasi dan memberi tim kami identitas bermainnya" sebut Klinsi, panggilan akrab Jurgen Klinsmann dalam autobiografinya.

Identitas yang dimaksud Klinsi disini adalah memberi jiwa baru pada sepakbola Jerman yang selama ini mati suri. Dari sekian banyak pekerjaan rumah bagi Klinsi sebagai pelatih, hal yang pertama dilakukan pria itu adalah meminta setiap klub Bundesliga untuk membuka fasilitas sekolah sepakbola. Selain itu, Klinsi juga meminta agar asosiasi sepakbola Jerman (DFB) memberlakukan sistem kuota bagi klub-klub yang berlaga di Bundesliga. Sebelum Klinsi datang, 60 persen pemain di Bundesliga adalah pemain asing. Kini angka itu telah berbalik.

Setelah kebijakan ini diberlakukan, tak perlu menunggu lama bagi publik untuk bisa melihat talenta-talenta baru muda Jerman yang langsung bermunculan. Gelombang regenerasi pemain muda mengalir tak terbendung di tanah kanselir Merkel. Sebut saja Mesut Ozil, Thomas Muller, Toni Kroos hingga Sami Khedira yang tampil mentereng di Euro 2012. Saat ini, Bundesliga Jerman memiliki angka pemain muda tertinggi dibanding liga-liga elit Eropa lainnya -naik dari 6 persen di tahun 2000 menjadi 15 persen di tahun 2010- menentukan identitas permainan sepakbola Jerman adalah PR kedua yang lebih penting dan sulit bagi Klinsi dan Jogi.

"Ketika aku dan Jogi mengambil alih timnas Jerman, kami menjelaskan pada publik cara bermain seperti apa yang kami inginkan dan akan menjadi identitas permainan Jerman. Kami mengadakan workshop dan pertemuan dengan para pelatih tim-tim bundesliga dan meminta mereka mengisi kuisioner: bagaimana mereka ingin bermain, bagaimana mereka ingin permainannya dilihat publik dunia dan permainan seperti apa yang ingin dilihat publik Jerman."

Setelah ketiga pertanyaan ini dijawab dan dirumuskan, Klinsi dan Jogi pun bekerja cepat untuk merumuskan kurikulum baru sepakbola Jerman yang kemudian harus diimplementasikan oleh DFB bagi tiap-tiap talenta muda Jerman.

Bahu membahu dengan pelatih timnas muda U-21 Jerman, Dieter Eilts, identitas permainan yang dijelaskannya "Dynamic football: berorientasi menyerang dan memainkan bola melalui umpan-umpan cepat" pun segera identik dengan tim panser.

Puncaknya di piala dunia Jerman 2006, Klinsi berada ditengah pertaruhan karir. Jika caranya berhasil, DFB mungkin akan memperpanjang kontraknya. Namun jika tidak, DFB jugalah yang akan menerbangkan dirinya pulang ke California, tempat tinggal Klinsi setelah pensiun bermain bola.

Jawabannya sudah bisa dilihat. Jerman berhasil bertengger di posisi ketiga dan perlahan tapi pasti, kembali ke jalur kemenangan. Namun bagi Klinsi, kesuksesan yang sebenarnya adalah ketika dia mendengar sendiri seorang supporter dengan bangganya berkata.

"Itulah tim kami, dan begitulah cara kami bermain"

Jelas sudah dua perubahan Klinsi membuahkan hasil manis. Dan pesannya untuk timnas lain yang ingin mengikuti jejak kesuksesan Jerman sangatlah mudah.

"Identitas bermain apapun yang telah dipilih, pastikan semua pihak telah setuju. Duduklah bersama dan tentukan cara bermain yang kalian inginkan. Jika sudah satu suara, maka semuanya akan berusaha mencapai kemenangan dengan cara yang sama" tutupnya.[***]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA