Namun dijamin, laga terakhir yang mempertemukan Tim Panser Jerman dan Tim Tango Argentina akan berlangsung menarik. Keduanya akan berjuang mati-matian untuk menang dan membuktikan diri sebagai raja sepakbola se-jagat raya.
Sapak terjang Argentina di piala dunia bisa dibilang "Messi-sentris". Sejak pertandingan pertama melawan tim debutan piala dunia, Bosnia, lalu Iran dan Nigeria, Messilah yang punya peran penentu kemenangan bagi The Albiceleste. Barulah pada laga alot melawan Swiss, Messi dibungkam dan satu-satunya gol yang memulangkan tim Ottmar Hitzfield lahir dari sepakan Angel Di Maria.
Dalam dua laga terakhir, skuad asuhan Alejandro Sabella ini harus terseok-seok menuju final dengan kemenangan tipis 1-0 melawan Belgia dan terpaksa bermain 120 menit kala menjamu Belanda di semifinal yang akhirnya dimenangi tim tango.
Bandingkan dengan catatan apik Der Panzer. Jika menilai dari pertandingan pertamanya melawan Portugal, akan sangat mudah diprediksi bahwa Jerman akan melangkah jauh hingga ke final. Dimulai dengan mempermalukan Portugal 4-0, Jerman bagaikan melaju terus tanpa rem, menggilas nama-nama besar yang menantangnya.
Korban timnas Jerman bervariasi. Ada yang dipulangkan dengan skor tipis, seperti 1-0 untuk Perancis, dan ada pula yang dipermalukan di depan pendukungnya sendiri, Brazil, dengan pembantaian 7-1.
Memang tak semua pertandingan berjalan mudah. Kala melawan Aljazair misalnya, kiper Manuel Neuer harus mati-matian menjaga gawang dari serangan The Fennec Foxes yang bertubi-tubi karena strategi Joachim Loew memasang Shkodran Mustafi bersama-sama Per Mertesacker dan Jerome Boateng sebagai bek dan menarik kapten tampan Philipp Lahm ke posisi pemain tengah tidak efektif.
Jerman dan Argentina sudah pernah bertemu di partai puncak piala dunia sebanyak dua kali. Pertama, di Meksiko 1986 dimana Argentina menang 3-2 dan di Italia 1990, ketika Jerman memenangkan piala dunia untuk terakhir kalinya dengan skor 1-0. Laga Senin dini hari ini juga akan menjadi duel Jerman melawan Argentina yang ketujuh di Piala Dunia.
Secara head to head, Argentina memang diatas angin. Tim Tango tercatat sudah menang 9 kali dari 20 laga melawan Jerman (5 imbang dan 6 kalah). Pertemuan terakhir terjadi pada Agustus 2012 di Frankfurt yang berakhir dengan kemenangan Argentina 3-1.
Jalannya pertandingan diprediksi akan berlangsung sangat ketat. Tim Panzer yang terkenal dengan gaya permainannya yang terstruktur rapi kemungkinan akan mengembalikan kapten Philipp Lahm ke posisi bek kanan seperti kala membantai Brazil 7-1 dalam pertandingan terakhirnya.
Jerman juga senang bermain dengan tempo cepat, sehingga Argentina harus bisa melambatkan tempo permainan. Hal ini bisa dilakukan dengan mudah oleh Sabella. Yaitu cukup dengan menempatkan Lionel Messi di antara para pemain tengah Jerman. Pertandingan akhir melawan Belanda menunjukkan Messi bisa dihentikan, namun diperlukan pemain tengah yang solid untuk terus menjaganya. Menyibukkan para pemain tengah untuk Messi seorang bisa melambatkan tim lawan hingga Argentina bisa leluasa menyerang.
Namun sayangnya, barisan belakang Jerman tidaklah mudah ditaklukkan. Nama-nama seperti Lahm, Boateng atau Mats Hummels telah lama menjadi mimpi buruk bagi para striker dan mereka sangat konsisten menjaga pos masing-masing. Belum lagi ketajaman Bastian Schweinstiger, Thomas Muller, Toni Kroos hingga Mesut Ozil yang siap merobek jala pemain lawan, atau memberi pasokan bola pada satu-satunya penyerang murni di skuad Der Panzer, Miroslav Klose.
Namun arsitek Joachim Loew nampaknya harus juga mencari cara untuk membobol gawang Argentina yang perawan dalam tiga pertandingan terakhir. Artinya jajaran pemain belakang Argentina seperti Zabaleta, Demichelis, Garay maupun Rojo merupakan barisan yang rapat dalam bersama-sama mengawal gawang Sergio Romero.
Namun tampaknya, Jerman terlalu perkasa untuk Argentina. Diprediksi, Jerman akan memenangi laga dengan skor 2-0 dan membawa pulang trofi piala dunia ke tanah Angela Merkel untuk yang keempat kalinya.
[***]
BERITA TERKAIT: