Pemilu 2014 Bisa Jadi Cermin Demokrasi Kriminal Bila Pelaku Politik Uang Tak Ditindak

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Jumat, 11 April 2014, 08:57 WIB
Pemilu 2014 Bisa Jadi Cermin Demokrasi Kriminal Bila Pelaku Politik Uang Tak Ditindak
ilustrasi/net
rmol news logo . Penyelenggara pemilu 2014 yang centrang perenang dengan berbagai kekacauan dan kecurangan akan melahirkan demokrasi kriminal. Pasalnya, banyak pelaksanaan pemilu yang kacau mulai dari persiapan dan penghitungan serta masih maraknya caleg pertahana yang melakukan praktik money politic/.

"Seharusnya Panwaslu tanggap dan merespon pberbagai reaksi yang berkembangan di masyarakat karena mayoritas celeg pertahana dan baru melakukan aksi serangan fajar," ujar caleg Partai Golkar, Rusmin Effendy, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Jumat, 11/4).

Menurut Rusmin, ada beberapa indikasi kegagalan penyelenggara pemilu yang perlu dicermati mulai dari amburadulnya distribusi surat suara di beberapa daerah, pencoblosan sebelum hari H, tidak adanya aparat keamanan dan saksi di setiap TPS, penundaan penghitungan suara sampai serangan fajar. Dan indikasi tersebut sudah pasti tidak akan melahirkan anggota dewan yang berkualitas karena mayoritas caleg pertahana melakukan politik traksaksional.  

"Karena itu, masyarakat jangan berharap mampu memiliki wakil rakyat yang amanah, jujur, akhlakul karimah dan dekat dengan rakyat. Bukan tidak mungkin, kualitas DPR nanti lebih buruk dari periode sebelumnya," kata dia.

Dia mengakui, kuatnya budaya traksaksional caleg dan masyarakat dalam pelbagai modusnya hanya mencinderai proses demokrasi karena praktik machiaveli untuk menghalalkan segala cara dilakukan, bukan mengedepankan politik asketisme.

"Bagaimana mungkin bangsa ini mau maju, untuk menjadi pemimpin saja sudah melakukan traksaksional. Sangat memprihatinkan sekali," tegasnya.

Menyinggung banyaknya surat suara yang tertukar di dapil, Rusmin menyatakan, kasus seperti ini baru yang pertama terjadi dalam pemilu sebagai modus baru kecurangan. Persoalannya, apakah hal tersebut disengaja atau tidak atau karena kelalaian pendistribusian, KPU sebagai penyelenggara harus bertanggungjawab. Bukan itu saja, masih banyak persoalan yang terjadi di balik pelaksanaan pemilu kali ini.

Rusmin juga menyayangkan soal penemuan atribut caleg dan uang karena serangan fajar. "Setiap kejahatan pasti akan meninggalkan bekas. Serangan fajar itu salah satu bentuk kejahatan pemilu yang membuat masyarakat bodoh karena menikmati sesaat. Karena itu, masyarakat jangan protes kalau caleg yang terpilih tidak ada kembali lagi ke dapilnya," demikian Rusmin. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA