“Dalam diskusi internal kami, Pak SBY ikut memantau apa yang menjadi perhatian masyarakat, termasuk elektabilitas para capres,’’ kata Juru Bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha, kepada
Rakyat Merdeka, Rabu (2/4).
SBY, lanjut Julian, berharap siapa pun yang menjadi presiden hasil Pilpres 2014 hendaknya bisa melanjutkan program sosial yang berguna bagi masyarakat.
Berikut kutipan selengkapnya;
Apa strategi SBY agar pemimpin selanjutnya memiliki kesamaan visi?Sebagai Presiden selama 10 tahun tentu ada yang dicapai. Beliau pun berharap, ingin kondisi yang sudah baik tetap terjaga dan berjalan.
Itu bukan kepentingan pribadi Pak SBY, tapi kepentingan bangsa dan negara. Program-program sosial untuk rakyat agar diteruskan.
Siapa pun presiden mendatang, Pak SBY pasti mendukung. Beliau akan membantu bila pandangannya atau sarannya diperlukan.
Bagaimana kalau Presiden mendatang memiliki perbedaan cara pandang?Pak SBY selalu berpikir positif. Beliau selalu melihat masa depan bangsa kita akan lebih baik. Saya kira Pak SBY percaya, siapa pun pemimpin kita selanjutnya, dia akan membawa Indonesia menjadi lebih baik.
Dalam posisi sebagai bekas presiden, Pak SBY akan menempatkan diri sebagai warga negra biasa. Namun beliau selalu siap untuk bekerja sama atau membantu pemimpin selanjutnya jika diminta.
Dalam musim kampanye ini, Presiden begitu sibuk, apa tidak terganggu kesehatannya?Masa kampanye terbuka membuat Presiden SBY bekerja ekstra. Selain menyelesaikan tugas-tugas negara, Pak SBY melakukan serangkaian tugas sebagai ketua umum Partai Demokrat untuk berkambanye di berbagai daerah. Namun, situasi tersebut tak membebani kondisi fisik dan psikis presiden.
Kalau dari luar, orang melihat atau membayangkan Pak SBY sangat capek dan lelah. Tapi, saya pastikan, kondisi Presiden dalam keadaan baik. Beliau sudah terbiasa untuk berada dalam situasi berpikir dan bekerja berat.
Situasi begitu sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Sepengetahuan saya, waktu istirahat Pak SBY kurang dari 6 jam per hari. Beliau juga terbiasa bekerja di hari libur. Jadi, situasi kampanye tak menggangu dan mempengaruhi kesehatan beliau.
Bukannya saat kampanye, suara SBY sempat serak?Itu cuma sekadar masuk angin dan kelelahan. Tak berselang lama, kondisi kesehatan Pak SBY kembali pulih. Tim dokter hanya meminta beliau tak memporsir kinerjanya.
Sejumlah kalangan mengkritik, SBY tidak bisa membedakan sebagai ketum dan Presiden saat kampanye, ini bagaimana?Yang saya tahu, saat bertugas sebagai ketum Partai Demokrat, beliau selalu menempatkan diri sebagai warga negara biasa, sebagai seorang SBY. Beliau tidak melihat atau merefleksikan diri sebagai Presiden.
Publik perlu tahu, meski Pak SBY tak menempatkan diri sebagai Presiden saat menjalankan tugas partai, tapi negara tetap berkewajiban untuk melindunginya. Posisi itu tidak bisa lepas dalam kondisi apa pun.
Bisakah Presiden menolak fasilitas itu?Ini bukan mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, keinginan atau bukan keinginan Pak SBY. Ini adalah amanat undang-undang yang harus dijalankan.
Ketika beliau melakukan fungsi sebagai ketum pengawalan dan pengamanan melekat harus tetap dilakukan, meski beliau tidak mau. Sebab, Paspamres member pengamanan merupakan perintah undang-undang.
Selain Paspampres, fasilitas apa saja yang terus melekat kepada Presiden?Perlindungan atau hak kesehatan yang diberikan negara untuk Presiden juga terus melekat.
Bagaimana dengan biaya perjalanan Presiden saat kampanye?Mengenai biaya, Presiden sudah berkali-kali memberi penjelasan. Beliau membaca peraturan pemerintah tentang pelaksanaan atau cara berkampanye dan beliau mentaati itu.
Ketika ini bergulir di masyarakat, apakah saat SBY pergi berkampanye menggunakan fasilitas negara, beliau menyampaikan, kami mengundang BPK untuk melakukan audit. Silakan diaudit, nanti kita lihat. Lagi pula, presiden sebelum Pak SBY, juga melakukan hal sama. Tidak pernah beliau mengambil sesuatu yang bukan haknya. ***
BERITA TERKAIT: