"Padahal seharusnya, buktikan dulu terpilih di pemilu, lihat rekam jejak sendiri apakah dekat dengan rakyat dan juga imun dengan korupsi," kata pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Jumat, 28/2).
Di saat yang sama, lanjut Ari Junaedi, keluarnya daftar kabinet bayangan PDI Perjuangan tersebut semakin menambah amunisi lawan-lawan politik untuk "menyembelih" banteng moncong putih. Akhir-akhir ini saja, serangan demi serangan terus dilancarkan ke arah Jokowi. Bahkan "curhat" Walikota Surabaya Tri Rismaharini dijadikan santapan politik elit-elit Demokrat, Gerindra, Golkar, dan PPP untuk mendegradasi PDIP.
"Yang lebih dahsyat lagi, mereka mengadu domba bahkan membenturkan Jokowi dengan Risma atau Risma dengan Megawati," kata Ari, yang juga pengajar Program Pascasarjana di UI, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Dr Soetomo Surabaya dan Universitas Persada Indonesia YAI Jakarta.
"Sebaiknya pihak-pihak yang merilis daftar kabinet bayangan itu bisa belajar lagi di bangku kuliahan,"ucap Ari Junaedi yang mengenal betul karakter Megawati Soekarnoputeri karena cukup intens berada di ring-1 Kebagusan dan Teuku Umar di kurun 1997-2010.
Kebagusan dan Teuku Umar adalah kediaman pribadi Ketua Umum PDI Perjuangan di Jakarta.
[ysa]
BERITA TERKAIT: