Dalam hal ini, bukan saja para aktivis muslim yang khawatir. Bahkan, Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri pun, melihat kondisi ini cukup gelisah dan resah.
Informasi dari dalam PDI Perjuangan menyebutkan, Megawati menilai kekuataan partai Islam atau partai berbasis massa Islam ini sangat penting untuk menjaga stabilitas politik dan sosial Indonesia. Bagaimanapun, kekuatan Islam adalah juga penyumbang utama Kemerdekaan dan keutuhan NKRI.
Megawati, disebutkan, gelisah bila poros Islam ini menjadi lemah. Megawati resah bila partai Islam atau partai berbasis massa Islam ini, yang merupakan penyalur aspirasi umat Islam itu tidak ada lagi. Bisa-bisa, saluran aspirasi itu tidak tertampung lagi, lalu menggunakan saluran lain di luar cara-cara yang Konstitusional.
Kegelisahan Megawati ini, juga disebutkan, didasari karena kecintaan yang sangat mendalam pada Indonesia Raya; satu cita-cita Kemerdekaan yang harus dijaga dan dirawat. Sebab bagi Megawati, yang sangat mendalami dan memahami ajaran Bung Karno, kepentingan bangsa dan negara adalah hal yang utama dibandingkan ego kelompok atau sekat politik.
Dalam praktek politik, dikabarkan, Megawati juga sangat nyaman bergandengan dengan tokoh Islam. Megawati misalnya nyaman saat menjadi Presiden dengan Hamzah Haz Wakil Presiden. Di Pemilu 2004, Megawati juga menggendeng KH Hasyim Muzadi sebagai cawapres. Bahkan, di Pemilu 2009, Megawati juga mau menggandeng tokoh muslim lain, namun akhirnya dengan "terpaksa" harus menggadeng Prabowo karena tidak ada pilihan lain.
[ysa]
BERITA TERKAIT: