Ahmad Heryawan sendiri menempati posisi ketiga dalam Pemilihan Raya PKS. Peraih suara tertinggi di Pemira PKS adalah Hidayat Nur Wahid dan Anies Matta.
Dari sisi marketing politik, kata pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, pasangan Prabowo-Ahmad Heryawan memang sangat menjual. Sebab duet ini merupakan kombinasi tokoh nasional dengan kepala daerah dari propinsi berpenduduk terpadat di Indonesia. Hanya saja, secara realitas politik, Gerindra akan rugi karena terbebani dengan kasus-kasus korupsi yang membelit elit-elit PKS.
"Istilahnya dalam matematika, plus ditambah negatif hasilnya akan kecil secara signifikan. Gerindra akan terbebani sedangkan PKS yang mengambil manfaat dari duet Prabowo-Aher," kata Ari Junaedi kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 15/2).
Menurut pengajar Program Pascasarjana UI ini, elektabilitas PKS di yang jeblok serta
positioning Gerindra yang moncer di berbagai jajak pendapat dari berbagai lembaga survei semakin menunjukkan kalau duet Gerindra - PKS akan sulit terwujud secara realitas dan logika politik. Gerindra, usul Ari, seharusnya menduetkan Prabowo dengan parpol menengah selain PKS seperti Hatta Rajasa dari PAN.
"Apalagi jika Jokowi jadi dicapreskan oleh PDIP maka siapapun pesaingnya akan kesulitan bersaing. Gerindra harus berpikir ulang jika harus menghadapi kedigjayaan Jokowi," tandas peraih penghargaan World Customs Organization Serticificate of Merit 2014 karena pola pengajaran komunikasinya yang inspiratif itu.
[ysa]
BERITA TERKAIT: