Pupuk Kujang Jamin Tak Ada Kelangkaan Pupuk

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Kamis, 16 Januari 2014, 22:29 WIB
Pupuk Kujang Jamin Tak Ada Kelangkaan Pupuk
ilustrasi/net
rmol news logo . Saat ini, produksi pupuk Kujang masih berjalan dengan baik, dan dalam sehari bisa diproduksi sebagai 3.000 ton. Karena itu, petani tak perlu khawatir ada kelangkaan pupuk di pasaran.

"PT. Pupuk Kujang telah menyiapkan stok pupuk urea untuk Jawa Barat sebanyak 62 ribu ton," kata Manager Humas PT. Pupuk Kujang, Ade Cahya Kurniawan, sambil mengatakan kebutuhan di Jawa Barat, sebagaimana Peraturan Gubernur per September lalu yakni sebanyak 51 ribu ton. Dari jumlah kebutuhan tersebut telah dipenuhi sebanyak 32 ribu ton, dan masih surplus 43 ribu ton.

Untuk Kabupaten Bandung, kata Ade, memasuki Januari 2014 ini, telah menyimpan stok urea di gudang Nagreg sebanyak 2.404,95 ton. Serta masih dalam perjalanan menuju gudang tersebut, sebanyak 418 ton. Dengan jumlah tersebut, Ade menjamin kebutuhan urea untuk Kabupaten Bandung sepanjang 2014 dipastikan aman.

"Berdasarkan data kebutuhan urea yang disodorkan kepada kami dari Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, pada Januari ini sebanyak 2.432 ton. Sehingga, ada surplus sebanyak 390,95 ton," jelas dalam keterangan beberapa saat lalu (Kamis, 16/1).

Ade melanjutkan, berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 87/2011, harga eceran tertinggi (HET) urea yakni Rp 1.800 per kilogram. Namun dengan ketentuan, pembelian karungan isi 50 kilogram (bukan eceran kiloan) dan pembelian secara tunai, serta dibeli di kios resmi.

"Tapi pada kenyataannya, di lapangan kadang ditemui ada penjualan di atas HET. Setelah kami lakukan penyelidikan lapangan urea yang dijual diatas HET itu, pupuk paket campuran atau majemuk. Atau petani yang membeli tidak dikios resmi sehingga harganya diatas HET," jelasnya.

Soal adanya isu kelangkaan yang terjadi dua pekan terakhir ini, lanjut Ade, pihaknya akan segera melakukan evaluasi sistem distribusi. Diakuinya, keterlambatan distiribusi bisa saja terjadi karena, adanya keterlambatan pengambilan oleh distributor ke gudang Nagreg. Sehingga, ketersediaan di lapangan sedikit tersendat.

"Kami minta para petani tidak perlu panik. Karena kalaupun benar-benar terjadi kelangkaan, kami siapkan beberapa cara. Yakni dengan mobil remote, dimana truk pengangkut langsung mendistribusikan ke pengecer, kedua dengan cara operasi pasar langsung kepada petani. Selain itu, kami pun melakukan pengecekan ke gudang lini II Nagreg," jelas mayakinkan. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA