Persitiwa 15 Januari 1974 itu kemudian dikenal sebagai Malari (Malapetaka lima belas Januari).
Dalam aksi ini mahasiswa menolak kebijakan pemerintah yang menjalin kerja sama dengan pihak asing untuk pembangunan nasional. Mahasiswa yakin, selain karena kerja sama dengan asing tidak akan berpihak pada rakyat, juga kerja sama ini dinilai akan memperburuk kondisi ekonomi dalam jangka waktu yang panjang.
Peristiwa Malari ini, yang berujung pada kerusuhan sosial, terjadi Perdana Menteri (PM) Jepang, Tanaka Kakuei, sedang berkunjung ke Jakarta sejak sehari sebelumnya, atau 14 Januari.
Sebelum peristiwa Malari meletus, penolakan terhadap modal asing ini sudah dimulai sejak tahun sebelumnya. Pada 11 November 1973, mahasiswa juga menggelar aksi menolak kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), Jan P Pronk. IGGI adalah lembaga pemodal asing bentukan Amerika Serikat.
[ysa]
BERITA TERKAIT: