Di luar spekulasi itu, kubu mantan Ketua Umum Demokrat itu masih percaya bahwa Anas merupakan korban politik SBY. Ma'mun Murod misalnya, di antara sahabat Anas itu, untuk meyakinkan publik bahwa Anas merupakan korban politik, sampai menulis buku "Anas Urbaningrum Tumbal Politik Cikeas."
Anas Urbaningrum terpilih sebagai Ketua Umum Demokrat dalam Kongres ke-2 Partai Demokrat di Bandung pada 20-23 Mei 2010. Anas yang mendeklarasikan maju sebagai ketua umum sebulan sebelumnya, akhirnya terpilih sebagai ketua umum dengan menyingkirkan Marzuki Alie dan Andi Mallarangeng.
Dalam putaran pertama, Anas unggul dengan memperoleh 236 suara, sementara Marzuki Alie 209 suara dan Andi Mallarangeng 82 suara. Karena tidak ada kandidat yang memperoleh suara lebih dari 50 persen, pemungutan suara putara kedua dilakukan. Di putaran kedua, Anas unggul dengan perolehan 280 suara, sementara Marzuki Alie memperoleh 248 suara.
Ternyata, informasi yang beredar sejak awal di internal Demokrat, SBY kurang berkenan dengan terpilihnya mantan Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tersebut. Lalu dicarilah informasi yang bisa menjatuhkan Anas Urbaningrum. Berbagai cara pun dilakukan untuk mendongkel Anas, termasuk menggelar pertemuan ekslusif, tanpa kehadiran Anas.
Di luar kasus hukumnya, bagi sebagian orang, konteks politiknya ini tidak kalah menarik. Apalagi Anas, akhirnya terus tersudut dengan berbagai komenter elit Demokrat, seperti Jero Wacik dan Syarif Hassan, setelah ada rilis dari lembaga survei yang diumumkan pada publik bahwa posisi elektoral Demokrat berada di angka 8 persen di bawah kepemimpinan Anas Urbaningrum. Sehingga muncul kehendak di elit internal untuk menggeser Anas secara blak-blakan.
[ysa]
BERITA TERKAIT: