Demikian dikatakan pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah, dikutip Senin 4 Mei 2026.
Apalagi, kata Amir, komposisi peserta didominasi aktor keamanan, mulai dari Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, Kepala Badan Intelijen Negara Jenderal (Purn) Muhammad Herindra, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita, para Kepala Staf Angkatan hingga Kepala Polri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Menurut Amir, komposisi peserta rapat menunjukkan satu hal penting: ini adalah konsolidasi kekuatan inti negara, khususnya di bidang pertahanan, keamanan, dan intelijen.
“Itu bukan sekadar rapat biasa. Ini adalah
high-level strategic briefing yang biasanya terkait dengan pembacaan ancaman negara,” kata Amir.
Ia menilai, kehadiran Sjafrie Sjamsoeddin dkk menunjukkan bahwa isu yang dibahas berkaitan dengan stabilitas nasional dalam spektrum luas -- baik ancaman internal maupun eksternal.
Amir juga menyoroti lokasi pertemuan yang tidak dilakukan di Istana Negara, melainkan di Hambalang. Menurutnya, hal ini memiliki makna simbolik sekaligus strategis.
“Hambalang itu bukan sekadar rumah pribadi. Dalam konteks kepemimpinan Prabowo Subianto, itu bisa dipahami sebagai war room -- ruang berpikir strategis yang lebih fleksibel, lebih tertutup, dan minim protokol formal,” kata Amir.
BERITA TERKAIT: