Tetapi di sisi lain, Pertamina juga berencana membangun gedung yang akan menjadi gedung tertinggi kelima di dunia Burj Khalifa di Dubai, Shanghai Tower; Mecca Royal Hotel, dan One World TC di NY. Gedung itu direncanakan selesai dibangun pada 2020.
Menurut Rizal Ramli yang juga salah seorang kandidat calon presiden versi Konvensi Rakyat itu, apa yang selama ini disebut sebagai kerugian di Pertamina dan energi secara umum dalam kenyataannya lebih merupakan sebagai biaya KKN, mafia migas, dan inefisiensi.
Untuk menyelesaikan kerugian yang diakibatkan oleh ketiga hal itu dibutuhkan kebijakan politik dan korporasi yang tegas dan tidak merugikan rakyat.
Menurut perhitungan Rizal Ramli yang pernah menjadi Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan di era Abdurrahman Wahid, kerugiaan di sektor migas sekitar Rp 10 triliun akibat operasi yang berkaitan dengan mafia migas.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kata Rizal Ramli yang belakangan kerap disapa RR1, harus mengusut siapa saja pejabat negara yang disogok mafia migas ini.
Langkah lain yang perlu dilakukan Pertamina untuk menghentikan kerugiaan ecek-ecek itu adalah meningkatkan penggunaan gas untuk pembangkit listrik secara nasional dari 23 persen menjadi 30 persen dalam waktu dua tahun.
Pertamina juga perlu mengurangi penggunaan generator diesel, yang merugikan PLN sekiatr Rp 37 trilliun per tahun.
"Selain itu, harus mengalihkan sumber energi ke pembangkit yang menggunakan batubara, gas, air, dan geothermal secepatnya,†kata dia lagi dalam perbincangan Sabtu pagi (4/1).
Hal lain yang selama ini tidak dilakukan Pertamina adalah membangun kilang minyak berkapasitas antara 300 ribu hingg 400 ribu barrel. Apabila dalam dua tahun kilang-kilang itu bisa dibangun, maka biaya produksi solar bisa turun antara 40 hingga 50 persen, kata tokoh yang menurut The President Center ini paling ideal menjadi presiden Indonesia.
[dem]
BERITA TERKAIT: