Karena itu, kata pengamat politik Universitas Parahyangan (Unpar), Bandung, Asep Warlan Yusuf, rencana ratusan orang untuk berkumpul di Rengas Dengklok, Jawa Barat, pada tanggal 8 Januari 2014 nanti dan membubuhkan cap jempol darah sebagai tanda dukungan dan kesetiaan kepada Megawati merupakan sudah di luar nalar demokrasi. Namun hal itu tetap bisa dipahami bila orang-orang itu terdiri dari kelompok rakyat biasa, dan bukan kalangan politisi atau kelompok terdidik
"Itu bahasa rakyat yang sangat mencintai Megawati. Mereka mengunakan cara-cara itu, mau menekankan bahwa Megawati harus segera bersikap terkait dengan Pilpres. Mereka sepertinya tidak mau juga Megawati akhirnya ditinggalkan Jokowi," kata Asep kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Jumat, 27/12).
Asep menyarankan Megawati segera mengambil sikap terkait dengan Pilpres. Entah itu mengumumkan dia yang maju, Jokowi yang maju, atau orang lain yang maju. Intinya sudah ada keputusan dan kepastian sehingga para pecinta dan simpatisan di bawah tidak terombang-ambing oleh spekulasi yang beredar.
"Bila Mega diam saja, gerakan seperti ini akan semakin liar. Ini harus segera diantisipasi," demikian Asep.
[ysa]
BERITA TERKAIT: