Di tengah kondisi ini, banyak pihak yakin, PDI Perjuangan akan memenangkan Pemilu dan Pilpres 2014 bila mengusung Jokowi. Itu pun dengan syarat tambahan, Jokowi harus dideklrasikan sebelum Pemilu. Bila diumumkan setelah pemilihan legislatif, PDI Perjuangan akan kehilangan momentum.
Di tengah situasi ini juga, muncul gerakan-gerakan liar dari luar yang mendorong agar Jokowi segera diumumkan sebagai capres. Gerakan ini, entah memang tulus mendukung Jokowi, atau justru sedang bermanuver untuk meruntuhkan posisi PDI Perjuangan yang kini selalu berada di puncak elektabilitas.
Di kalangan internal PDI Perjuangan sendiri, tidak banyak yang mau atau berani bicara nyaring di depan publik soal Pilpres. Jawaban paling aman adalah mengatakan, "Menungggu Ibu Saja."
Hal ini wajar saja. Sebab sepertinya, apapun yang dibicarakan dan disuarakan oleh politisi PDI Perjuangan terkait dengan pencapresan, akan berdampak ganda.
Bila ia mendukung Megawati lagi misalnya, bisa jadi ia akan dianggap sedang menjilat dan menjebak Ibu. Meski memang ia bisa juga dinilai sebagai kader yang loyal dan setia.
Sementara bila ia bersuara untuk mengusung Jokowi misalnya, bisa jadi ia dianggap sebagai kader yang berniat tulus untuk memenangkan PDI Perjuangan. Namun di saat yang sama, bisa juga ia disebut dan dinilai kader pengkhianat.
Itulah dua dampak ganda, yang bagi politisi PDI Perjuangan, sama-sama mengkhawatirkan.
[ysa]
BERITA TERKAIT: