Figur Calon Pemimpin yang Dekat dengan Rakyat Bisa Mengurangi Golput

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Kamis, 03 Oktober 2013, 06:51 WIB
Figur Calon Pemimpin yang Dekat dengan Rakyat Bisa Mengurangi Golput
ilustrasi/net
rmol news logo . Bila merujuk pada pengalaman empirik dalam Pilkada DKI Jakarta, ada hal menarik terkait dengan fenomena golput, atau sebaliknya dengan tingkat partisipasi pemilih. Di putaran pertama, tingkat partisipasi pemilih mencapai 62 persen. Sementara di putaran dua, tingkat partisipasi pemilih mencapai 65,6 persen.

Pengalaman empirik di DKI Jakarta ini, kata Wasekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristyanto, berbeda dengan pengalaman dalam Pilkada di daerah lain, yang menunjukkan tingkat partisipasi pemilih menurun di putaran kedua. Pengalaman ini pun tidak bisa dilepaskan dari figur Joko Widodo.

"Pengalaman empiris di DKI menunjukkan figur yang dekat dengan rakyat mampu meningkatkan partisipasi pemilih atau mengurangi golput," kata Hasto dalam keterangan beberapa saat lalu (Kamis, 3/10).

Terkait dengan golput sendiri, lanjut Hasto, ada beberapa faktor yang mempengaruhi, yakni golput atau "digolputkan". Golput bisa muncul sebagai  pilihan politik ataupun karena sikap yang muncul akibat kinerja Parpol yang dinilai belum memuaskan publik. Sedangkan "digolputkan," artinya ada rekayasa dari pihak tertentu yang dilakukan secara sistemik dan terstruktur melalui manipulasi daftar pemilih tetap (DPT). [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA