"Bahan bakar minyak adalah sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui yang akan cepat habis jika penggunaannya tak terkendali," kata Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prof. Dr. Suhardi dalam keterangannya, Senin (16/9).
Oleh karena itu jelas Suhardi, penting sekali untuk melihat jauh ke depan apa yang harus dilakukan jika suatu saat sumber minyak dunia benar-benar habis. Solusi BPPT dengan penggunaan sumber energi alternatif sangat sejalan dengan program Gerindra yaitu membangun kedaulatan energi.
Hari ini (Senin, 16/9) di kantornya Deputi Bidang Teknologi, Informasi Energi dan Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Unggul Prayitno menyatakan BPPT punya jalan keluar untuk menjaga keamanan pasokan bahan bakar sekaligus menawarkan sumber alternatif untuk substitusi BBM, antara lain dengan penggunaan bahan bakar nabati (BBN) untuk pengganti solar dan premium, penggunaan gas alam terkompresi (CNG) untuk substitusi premium, dan penggunaan transportasi massal dengan kereta api listrik.
Suhardi menerangkan, peningkatan konsumsi BBM yang tidak diimbangi dengan peningkatan produksi minyak dalam negeri menyebabkan Indonesia harus mengimpor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, impor minyak dan gas (migas) per Juli 2013 mencapai USD 4,14 miliar dengan volume impor minyak sebesar 4,67 juta ton.
Gerindra tambahnya, telah deklarasikan, dalam 6 Program Aksi Partai Gerindra terdapat agenda mencetak 2 juta lahan baru untuk pengembangan bahan bakar bioetanol serta membangun pabrik pengolahan bioetanol. Penggunaan bahan bakar nabati yang dicetak di lahan sendiri kata Suhardi sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada minyak bumi yang terus impor.
"Dengan langkah tersebut negara ini dapat mandiri dalam hal penyediaan energi," tegasnya.
"Apabila rakyat memberikan amanat kepada Gerindra untuk memenangkan Pemilu 2014 serta memberikan amanat kepada Prabowo Subianto dalam Pilpres 2014 kami menjamin bahwa program kemandirian energi tersebut pasti terlaksana. Bagi Gerindra, kedaulatan energi adalah harga mati," tambah Suhardi.
[rus]
BERITA TERKAIT: