"Kemarin kan ada lagi orang baru yang mengatasnamakan lembaga alumni salah satu PTN. Sepintas mungkin orang melihat ini orang lain. Tapi kalau mau jeli, orang itu adalah mantan aktivis di salah satu LSM yang kemarin menolak. Walau nama baru, dipastikan target dan sasarannya sama," kata Ketua Divisi Advokasi Aliansi Masyarakat Pencinta Konstitusi (AMPK), Virgo Sulianto, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 13/8) .
Selain itu, katanya, alasan yang dikemukakan dalam menolak Patrialis Akbar tidak jauh berbeda. Walau sudah banyak yang menyatakan bahwa tidak ada yang salah dalam proses penunjukan Patrialis Akbar, tetap saja alasan itu yang dikemukakan. Dari argumentasi yang bernada sama itu saja, sudah jelas terlihat lingkarannya.
"Mungkin saja junior-juniornya di LSM itu bersilaturrahmi lebaran. Terus, mereka meminta supaya seniornya bicara menguatkan mereka. Biasalah, ikatan historis-ideologis pasti ada dalam relasi senior-junior," ungkap Virgo.
Virgo meyakini bahwa pernyataan Ketua Alumni FH salah satu PTN itu adalah pendapat pribadi, bukan keputusan organisasi. Kalau mau mengatasnamakan organisasi, ya mesti ada mekanismenya. Paling tidak, harus dibawa ke rapat dewan pengurus. Karena pendapat pribadi, tentu tidak perlu dibesar-besarkan seolah-olah semua anggota sependapat dengan penolakan itu.
Virgo juga menyayangkan sikap LSM yang tidak bisa memberikan jawaban terkait penolakan pada Patrialis dan memberi restu pada Maria Farida Indarti. Kalau betul pengangkatan Patrialis dilakukan secara diam-diam, berarti pengangkatan Maria juga diam-diam. Faktanya, presiden SBY sama-sama menunjuk kedua orang tersebut dalam kepres yang sama.
"Kalau mau digugat, mesti kedua-duanya digugat. Yang diomongkan di media selalu Patrialis. Sementara penunjukan Maria didiamkan. Kalau begini, pasti ada niat kotor dengan penolakan itu," demikian Virgo.
[ysa]
BERITA TERKAIT: