Tragedi Bom Marriot 2009, Bom Klaten, dan Bom Solo 2012, menjadi bukti bagaimana radikalisme yang telah mewujud dalam tindakan terorisme terjadi di kalangan generasi muda, beberapa di antaranya masih aktif sebagai siswa di sekolah tertentu.
Riset MAARIF Institute tahun 2011 tentang “Pemetaan Problem Radikalisme di SMU Negeri†mengkonfirmasi fenomena di atas.
“Sekolah menjadi ruang terbuka bagi diseminasi paham apa saja, termasuk paham keagamaan yang radikal. Karena pihak sekolah terlalu terbuka, maka kelompok radikalisme keagamaan memanfaatkan ruang terbuka ini untuk masuk secara aktif mengkampanyekan pahamnya dan memperluas jaringannya,†ungkap Direktur Riset MAARIF Institute, Ahmad Fuad Fanani.
Sebagai konsekuensi dari menguatnya paham-paham keagamaan radikal di lingkungan sekolah, banyak siswa yang pemahaman keislamannya menjadi monolitik dan gemar menyalahkan pihak lain. Karena paham keagamaan yang tidak terbuka ini, maka paham kebangsaan mereka menjadi tereduksi dan menipis.
"Ironisnya, pihak sekolah banyak yang tidak peduli dengan paham-paham radikal yang diajarkan melalui kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Kegiatan ekskul ini menjadi pintu masuk yang efektif bagi infiltrasi kelompok-kelompok radikal di kalangan siswa," ungkap Pemimpin Redaksi
Jurnal MAARIF ini.
Karena itu, dalam
Jurnal MAARIF Vol. 8, No. 1, 2013 yang diluncurkan Rabu kemarin, redaksi sengaja mengetengahkan tema: “Menghalau Radikalisasi Kaum Muda: Gagasan dan Aksi†dengan maksud untuk mengulas secara mendalam tentang fenomena radikalisme di kalangan kaum muda, menyingkap genealogi, motif, tujuan, cara dan metodenya, serta jaringannya.
Hadir mengupas secara mendalam tentang radikalisasi kaum muda Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irjen (Purn) Ansyaad Mbai, sosiolog yang juga Direktur Youth Studies Center (YouSure) UGM, Muhammad Najib Azca, Ph.D dan Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Dra. Retno Listyarti, M.Pd.
“Agar tidak berhenti pada diskursus permasalahan saja, jurnal ini berusaha mencari alternatif jawaban atas problem radikalisme di kalangan kaum muda dengan mengangkat beberapa best practices dari program-program yang dilakukan berbagai pihak untuk membendung gerakan radikalisme keagamaan,†ungkap Ahmad Fuad Fanani.
Terkait hal tersebut, Buya Syafii Maarif sendiri sudah mengingatkan anak muda yang mudah terpancing dan terjebak dalam paham hitam-putih radikalisme, sebetulnya sedang menggali kubur masa depannya sendiri.
[zul]
BERITA TERKAIT: