Istana: Hasutan Herman Dogopia Propaganda untuk Suburkan Paham Separatisme di Papua

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Rabu, 22 Mei 2013, 07:44 WIB
Istana: Hasutan Herman Dogopia Propaganda untuk Suburkan Paham Separatisme di Papua
daniel sparringa
rmol news logo Pernyataan Herman Dogopia bahwa Presiden SBY menyetujui Papua merdeka pasca pilpres 2014 adalah sebuah hasutan. Tak hanya menyesatkan, hasutan itu juga merupakan sebuah propaganda politik yang diarahkan untuk menyuburkan paham separatisme di Papua.

“Selain tidak berdasar, propaganda ini menyembunyikan fakta yang sebenarnya tentang Prakarsa Jakarta untuk menuntaskan masalah Papua dalam waktu yang segera,” tegas Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Politik, Daniel Sparringa, dalam pesan singkat Rabu (22/5).

Herman Dogopia menyetir pernyataan SBY tersebut saat berbincang dengan sebuah media online beberapa waktu lalu. Herman mengatakan, pernyataan mengejutkan SBY tersebut terlontar dalam pertemuan dengan pemuka agama asal Papua, di Desember 2011. Rumor itu sudah beredar dari mulut ke mulut di antara para pemuka agama di Papua.

Presiden SBY, lanjut Daniel, justru berketetapan untuk melakukan pembicaraan yang intensif agar dalam masa pemerintahannya semua persoalan Papua dapat diselesaikan. Pasalnya, mewujudkan Papua tanah damai, sejahtera, dan berkeadilan merupakan komitmen politik Presiden SBY.

Papua adalah bagian yang utuh dari Republik Indonesia. Formula politik di luar itu tidak pernah, tidak boleh, dan tidak mungkin menjadi pilihan. “Presiden mengajak semua elemen di dalam dan luar Papua untuk memberikan yang terbaik demi cita cita Papua yang maju bersama daerah lain di negeri ini," tukas Daniel.

Daniel juga membantah pernyataan Herman Dogopia bahwa Presiden SBY tidak mau berdialog lagi dengan rakyat Papua. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA