Informasi yang dihimpun, penemuan mortir dengan panjang 25 cm, lebar 5 cm dengan bobot 1 kilogram itu pertama kali ditemukan seorang petani yang hendak menggarap ladangnya di wilayah Gunung Cirempang.
Kapolsek Mande AKP Nandang melalui Kasubag Humas Polres Cianjur AKP Ahmad Suprijatna mengatakan warga yang menemukan peluru mortir tersebut awalnya tidak mengira benda tersebut merupakan peluru untuk senjata berat.
"Merasa curiga dengan mortir yang sempat beradu dengan cangkulnya itu, petani tersebut melaporkan ke ketua RT setempat, kemudian diteruskan ke petugas kami di Mapolsek setempat," kata Suprijatna.
Dia menjelaskan, lokasi peluru mortir tersebut, berada di lereng bukit dengan ketinggian 80 derajat. Mendapati laporan tersebut, sejumlah anggota polsek menuju ke lokasi guna memeriksa kebenaran informasi tersebut.
"Kemungkinan mortir itu masih aktif, namun kondisinya sudah dipenuhi karat. Melihat dari bentuk kami perkirakan mortir ini peninggalan zaman penjajahan Jepang," ungkapnya seperti dilansir kantor berita
Antara.
Guna menghindari hal yang tidak diinginkan, pihaknya mensterilkan lokasi tersebut dengan garis polisi sebelum mortir dievakuasi. Selang beberapa saat, setelah melakukan pengecekan dan dinilai aman, mortir tersebut langsung dibawa ke Subden IV Brimobda Polda Jabar, di Cipanas, untuk diperiksa.
Sementara itu, sejumlah masyarakat sekitar mengaku hanya mengetahui dari mulut ke mulut perihal temuan mortir tersebut. Namun ungkap mereka, ini bukan pertama kali, selama ini warga kerap menemukan benda jenis dan granat tangan yang diduga aktif di wilayah tersebut.
[ian]
BERITA TERKAIT: