“Selama tokoh tua dan pimpinan parpol tidak legowo melakukan regenerasi, saat itu regenarasi sudah mati,†kata Sekjen Pro Demokrasi (Prodem), Andrianto, kepada
Rakyat Merdeka, kemarin. Menurut Andrianto, regenerasi harus dilakukan sekarang. Sebab, Indonesia mengalami krisis figur akut.
Berikut kutipan selengkapnya:Kenapa Anda bilang krisis figur akut?Kalau kita lihat sekarang kan yang muncul adalah tokoh 4L ( Lu Lagi - Lu Lagi). Kalau begini terus tentu kita sudah mengalami cacat sejarah. Kalau kondisinya seperti ini terus, ini berarti mengalami kemandekan.
Apa yang membuat mandek?Reformasi terbajak oleh tokohtokoh yang tidak reformis. Dulu harapan kita parpol bisa menjadi sumber rekruitmen dan regenerasi kepemimpinan, nayatanya tidak terjadi. Sekarang ini parpol justru melanggengkan kekuasaan orang-orang tua saja.
Kenapa begitu?Dalam berpolitik kita mengedepankan faktor biaya yang besar. Kalau itu yang dikembangkan, tentu tokoh muda potensial sangat sulit berkembang. Apalagi menjadi capres.
Bukankah banyak tokoh muda di parpol?Meski di tubuh partai politik ada kalangan muda, tetap saja didominasi kalangan tua. Bahkan ketua umumnya yang lima tahun lalu atau 10 tahun lalu masih memimpin sampai sekarang.
Secara tidak langsung hal tersebut menciptakan oligarki politik di tubuh parpol. Maka muncul gaya feodal-feodal baru. Maka pengurus parpol diisi anak, suami, istri atau saudara. Generasi baru yang tidak memiliki kedekatan atau sedarah sangat sulit untuk berkembang.
Seharusnya bagaimana sikap tokoh-tokoh tua?Seharusnya figur-figur tua dipartai politik itu cukup menjadi begawan politik saja.
Mereka cukup menjadi simbol pemimpin bahwa mereka adalah sejarah kekuatan partai politik di masanya, sehingga tokoh tua itu berkewajiban untuk mendorong tokoh muda untuk maju. Paling tidak figur yang belum pernah ikut dalam kontestasi seperti pileg maupun pilpres diberikan kesempatan seluas-luasnya.
Apa tokoh muda mampu berlaga dalam Pilpres?Nah itu dia. Pilpres itu kan bukan pemilihan idol, kita harus mengedepankan sisi moral.
Misalnya ada orang yang pernah mencalonkan diri sebagai capres lalu tidak menang. Dia harus dihukum untuk tidak boleh mencalonkan dalam pilpres berikutnya.
Artinya ada pembatasan satu periode dulu. Kalau seseorang kalah di Pilpres 2004 maka Pilpres 2009 dia dilarang. Pilpres 2014 dia boleh ikut. Kalau etiap Pilpres dia maju, ini berbahaya.
Kenapa?Kalau maju terus, berarti mematikan munculnya kepemimpinan nasional yang baru.
Konvensi capres bisa munculkan capres muda, apa tanggapan Anda?Sekali lagi dengan politik sekarang ini kan berbiaya tinggi. Jadi semua tergantung dengan kemampuan finansial yang kuat.
Tidak bisa kita pungkiri dalam pemilihan ketua umum KNPI atau KADIN saja membutuhkan biaya yang cukup besar. Apalagi konvensi capres yang ujungujungnya kekuasaan itu.
Saya sangat pesimis dalam konvensi yang akan dilakukan Partai Demokrat dan PPP bisa memunculkan generasi baru. Yang muncul nanti itu-itu saja.
Mereka yang memiliki kekuatan ekonomi dan jaringan bisnis atau lainnya. Kalangan muda sangat sulit muncul.
Di Amerika Serikat konvensi capres cukup efektif, ini bagaimana?Jangan lihat Amerika Serikat melakukan konvensi, lalu kita melakukan hal yang sama. Karena kan belum tentu sistem yang dilakukan di sana cocok dilakukan di Indonesia.
Harusnya bagaimana?Lebih baik partai-partai mendorong kadernya di DPR untuk menurunkan Presiden Threshold (PT) 20 persen, itu lebih masuk akal dan rasional.
Memang idealnya berapa?Idealnya kalau saya sih seperti tahun 2004 saja, yakni 3 persen. Tapi karena partai makin sedikit, maka menjadi 10 persen saja. Karena dengan begitu bisa memberikan ruang bagi partai-partai mencalonkan figur mudanya. Darpada konvensi capres bikin malu parpol, lebih baik turunkan PT menjadi 10 persen.
Kenapa?Seandainya parpol yang melakukan konvensi capres, perolehan suaranya tidak mencukupi PT, ini sama saja mempermalukan diri sendiri. Ujung-ujungnya mereka akan melakukan koalisi untuk tentukan capres lagi.
Anda yakin tokoh muda muncul Pilpres 2014?Kalau saat ini saya belum berkeyakinanakan muncul regenerasi dalam waktu yang cepat. Kita terus serukan dan jadikan regenerasi kepemimpinan muda sebagai kampanye publik yang luas.
Siapa saja tokoh muda versi Prodem?Regenerasi kepemimpinan nasional harus dimulai di tahun 2014. Saat ini sudah bermunculan seperti Puan Maharani, Jokowi, Hatta Rajasa, Muhaimin Iskandar dan lainnya. Kalau dikriteriakan pimpinan nasional kita harus kredibel, punya kapasitas, jaringan dan modal besar. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: