WAWANCARA

Irjen Anang Iskandar: Nggak Bakal Rekomendasikan Grasi Terhadap Terpidana kasus Narkoba

Rabu, 12 Desember 2012, 08:53 WIB
Irjen Anang Iskandar: Nggak Bakal Rekomendasikan Grasi Terhadap Terpidana kasus Narkoba
Irjen Anang Iskandar
rmol news logo Irjen Anang Iskandar benar-benar berani. Baru dilantik kemarin menjadi Kepala Badan Narkotika (BNN) menggantikan Gories Mere, dia berjanji melakukan dua hal penting.

Pertama, tidak akan mereko­men­dasikan ke Presiden untuk grasi terpidana kasus narkoba. Kedua, mewujudkan Indonesia bebas narkoba tahun 2015.

“Ke depan kalau kami diminta rekomendasi soal grasi terpidana narkoba, pasti tidak memberikan. Tapi soal grasi itu adalah hak prerogatif Presi­den,” ujar Anang Iskandar kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Seperti diketahui, SBY telah mem­berikan grasi terhadap se­jumlah terpidana kasus narkoba, an­tara lain terpidana kasus nar­koba jaringan internasional Deni Setia Maharwan alias Rapi Mu­hammad Majid, Melika Pranola alias Ola, Peter Achim Franz Grodmann, dan Schapelle Leigh Corby.

Anang Iskandar selanjutnya mengatakan, janji tidak akan memberikan rekomendasi itu bu­kan main-main. Nanti bisa dilihat ke depannya.

“Kami berjanji  menindak sia­papun yang terlibat dalam  peng­gunaan atau pengedaran narkoba. Termasuk PNS yang be­la­kangan ini banyak tertangkap karena menggunakan narkoba,” pa­parnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Bagaimana kalau terpidana narkoba itu pejabat?

Seperti yang saya katakan tadi bahwa kami akan menindak sia­papun. Saya rasa, tidak ada yang kebal di depan hukum.

Sebagai kepala BNN yang baru, apa yang Anda lakukan?

Kami akan menyeimbangkan an­tara pencegahan, penindakan,  re­habilitasi, dan pemberdayaan masyarakat untuk memberantas narkotika. Itulah empat poin saya.

Bukankah empat poin itu su­dah ada dalam program BNN?

Betul. Langkah konkret yang akan kita lakukan itu empat poin itu dulu. Karena program-pro­gram yang sudah dijalankan Pak Gories Mere (Kepala BNN sebe­lum­nya) juga sudah sangat bagus dan terbilang sukses kan.

Apa yang terbaru dari Anda?

Saya kan menjabat kepala BNN masih baru. Semuanya akan kami lihat dulu dan terus mempelajari apa yang telah dila­kukan. Setelah itu kami akan me­lakukan langkah-langkah lain­nya. Kami harus me­rehabilitasi pengguna narkoba, dan mence­gah­nya. Kemudian ba­gaimana me­­nangkap atau me­mutus ja­ringan narkoba, sehingga tidak bisa masuk lagi ke Indonesia.

Apa empat poin itu bisa mem­berantas narkoba?

Saya yakin bisa. Keempat itu akan kami seimbangkan. Tidak hanya meneruskan program-pro­gram BNN yang sudah ada. Tapi saya juga tetap menjadikan Pak Gories sebagai mentor dalam rang­ka penindakan masalah narkoba.

Anda yakin bisa memutus jaringan narkoba?

Harus yakin dong. Makanya terus berusaha maksimal. Nanti­nya, kami akan melakukan lang­kah-langkah simultan. Jika pen­cegahannya sudah berhasil, ten­tunya untuk apa narkoba masuk di Indonesia kalau memang tidak ada yang mengkonsumsi.

Kami tetap melanjutkan kerja sama dengan negara-negara lain untuk memberantas narkoba. Ter­masuk negara-negara yang ter­kenal sebagai penghasil produk-produk narkoba.

Masih ada narapidana yang mengendalikan bisnis narkoba dari penjara, tanggapan Anda?

Soal itu memang penting sege­ra dihentikan agar tidak ada lagi yang melakukan itu. BNN tentu­nya akan terus bekerja sama de­ngan Lapas (Lembaga Pe­ma­sya­rakatan). Itu ba­gian penting yang akan kami la­kukan. Selain itu, kami juga bekerja sa­ma dengan negara ASEAN, dan negara yang teridentifikasi meng­hasilkan narkotika.

Apa bisa Indonesia bebas narkoba tahun 2015?

Harus optimistis tapi dengan syarat ada partisipasi masyarakat untuk bersama-sama memerangi narkoba. Arti bebas di sini bisa me­ne­kan penyalahgunaan nar­koba sampai target tertentu. Se­ca­ra pribadi, saya optimistis tar­get itu bisa tercapai. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA