Irjen Anang Iskandar benar-benar berani. Baru dilantik kemarin menjadi Kepala Badan Narkotika (BNN) menggantikan Gories Mere, dia berjanji melakukan dua hal penting.
Pertama, tidak akan merekoÂmenÂdasikan ke Presiden untuk grasi terpidana kasus narkoba. Kedua, mewujudkan Indonesia bebas narkoba tahun 2015.
“Ke depan kalau kami diminta rekomendasi soal grasi terpidana narkoba, pasti tidak memberikan. Tapi soal grasi itu adalah hak prerogatif PresiÂden,†ujar Anang Iskandar kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Seperti diketahui, SBY telah memÂberikan grasi terhadap seÂjumlah terpidana kasus narkoba, anÂtara lain terpidana kasus narÂkoba jaringan internasional Deni Setia Maharwan alias Rapi MuÂhammad Majid, Melika Pranola alias Ola, Peter Achim Franz Grodmann, dan Schapelle Leigh Corby.
Anang Iskandar selanjutnya mengatakan, janji tidak akan memberikan rekomendasi itu buÂkan main-main. Nanti bisa dilihat ke depannya.
“Kami berjanji menindak siaÂpapun yang terlibat dalam pengÂgunaan atau pengedaran narkoba. Termasuk PNS yang beÂlaÂkangan ini banyak tertangkap karena menggunakan narkoba,†paÂparnya.
Berikut kutipan selengkapnya:
Bagaimana kalau terpidana narkoba itu pejabat?
Seperti yang saya katakan tadi bahwa kami akan menindak siaÂpapun. Saya rasa, tidak ada yang kebal di depan hukum.
Sebagai kepala BNN yang baru, apa yang Anda lakukan?
Kami akan menyeimbangkan anÂtara pencegahan, penindakan, reÂhabilitasi, dan pemberdayaan masyarakat untuk memberantas narkotika. Itulah empat poin saya.
Bukankah empat poin itu suÂdah ada dalam program BNN?
Betul. Langkah konkret yang akan kita lakukan itu empat poin itu dulu. Karena program-proÂgram yang sudah dijalankan Pak Gories Mere (Kepala BNN sebeÂlumÂnya) juga sudah sangat bagus dan terbilang sukses kan.
Apa yang terbaru dari Anda?
Saya kan menjabat kepala BNN masih baru. Semuanya akan kami lihat dulu dan terus mempelajari apa yang telah dilaÂkukan. Setelah itu kami akan meÂlakukan langkah-langkah lainÂnya. Kami harus meÂrehabilitasi pengguna narkoba, dan menceÂgahÂnya. Kemudian baÂgaimana meÂÂnangkap atau meÂmutus jaÂringan narkoba, sehingga tidak bisa masuk lagi ke Indonesia.
Apa empat poin itu bisa memÂberantas narkoba?
Saya yakin bisa. Keempat itu akan kami seimbangkan. Tidak hanya meneruskan program-proÂgram BNN yang sudah ada. Tapi saya juga tetap menjadikan Pak Gories sebagai mentor dalam rangÂka penindakan masalah narkoba.
Anda yakin bisa memutus jaringan narkoba?
Harus yakin dong. Makanya terus berusaha maksimal. NantiÂnya, kami akan melakukan langÂkah-langkah simultan. Jika penÂcegahannya sudah berhasil, tenÂtunya untuk apa narkoba masuk di Indonesia kalau memang tidak ada yang mengkonsumsi.
Kami tetap melanjutkan kerja sama dengan negara-negara lain untuk memberantas narkoba. TerÂmasuk negara-negara yang terÂkenal sebagai penghasil produk-produk narkoba.
Masih ada narapidana yang mengendalikan bisnis narkoba dari penjara, tanggapan Anda?
Soal itu memang penting segeÂra dihentikan agar tidak ada lagi yang melakukan itu. BNN tentuÂnya akan terus bekerja sama deÂngan Lapas (Lembaga PeÂmaÂsyaÂrakatan). Itu baÂgian penting yang akan kami laÂkukan. Selain itu, kami juga bekerja saÂma dengan negara ASEAN, dan negara yang teridentifikasi mengÂhasilkan narkotika.
Apa bisa Indonesia bebas narkoba tahun 2015?
Harus optimistis tapi dengan syarat ada partisipasi masyarakat untuk bersama-sama memerangi narkoba. Arti bebas di sini bisa meÂneÂkan penyalahgunaan narÂkoba sampai target tertentu. SeÂcaÂra pribadi, saya optimistis tarÂget itu bisa tercapai. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: