Ratusan orang dari berbagai elemen mendatangi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi pada Jumat malam (5/10) kemarin. Mereka bertahan sampai sekitar pukul 04.30 WIB (Sabtu, 6/10) memberikan dukungan kepada KPK, yang malam itu disatroni polisi untuk menangkap salah satu penyidiknya, Kompol Novel Baswedan.
"Saya terharu tadi malam ya. Masyarakat sipil sampai tengah malam menjelang subuh (bertahan di KPK)," kata pengamat hukum pidana Yenti Garnasih kepada Rakyat Merdeka Online Sabtu pagi kemarin.
Tapi, dia kecewa, pada hari yang sama (Jumat), pimpinan KPK tidak komplet berada di Jakarta. Alhasil, syarat untuk menahan mantan Kepala Korlantas Polri Irjen Djoko Susilo yang diperiksa hari itu menjadi tak terpenuhi.
"Tapi pada hari yang sangat penting itu, sesuai dengan statemen dia (Abraham Samad), kok komisionernya kurang. Aneh kan. Kita mendukung KPK, tapi komisionernya juga yang benar dong," ungkap dosen Universitas Trisakti ini.
Jumat itu, Abraham Samad ke Makassar melayat saudaranya meninggal dunia. Adnan Pandu Praja ke Malaysia dan Bambang Widjojanto di Kalimantan. Praktis hanya dua pimpinan yang di KPK. Yaitu, Busyro Muqoddas dan Zulkarnain.
"Saya juga bingung. Ini apa yang terjadi. Akhirnya seperti itu, karena kelabilan (pimpinan KPK) itu disatronilah oleh polisi. Karena dengan kurangnya komisoner, memperlihatkan KPK ini kurang wibawa juga. Sehingga beranilah polisi masuk menyatroni membuat pemandangan yang sangat memalukan di dunia internasional.
Pada Kamis sehari sebelumnya, Abraham Samad mengungkapkan, kalau tak ada halangan, dia akan menandatangani surat penanahan Irjen Djoko Susilo andai (surat penahanannya) diserahkan penyidik, yang menangani mantan Kepala Korlantas Mabes Polri itu pada hari Jumat.
"Begitu harinya, (Abraham) malah nggak ada. Walaupun Pak Abraham ada kedukaan, tapi ganti yang lain dong. Artinya, kasihan masyarakat sudah mendukung. Jadi sense of crisis pimpinan KPK sangat lemah. Kita lelah sekali deh. Yang paling peka pada akhirnya dan meninginkan KPK tetap ada itu, rakyat," tandasnya. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: