Mahasiswa ITB Goyang Erika

Jumat, 17 April 2026, 23:39 WIB
Mahasiswa ITB Goyang Erika
Video lagu lama dengan judul Goyang Erika yang diduga dinyanyikan himpunan mahasiswa Fakultas Tambang Institut Teknologi Bandung (HMT ITB). (Foto: Istimewa)
INI ada apa sih dengan mahasiswa kita. Kok pada otak mesum sih (oknum). Sebelumnya ada 16 mahasiswa FH UI, sekarang giliran mahasiswa ITB pula. Amit-amit kalau kena mahasiswa saya. 

Selamat datang di era keemasan intelektual Indonesia tahun 2026, di mana mahasiswa dari kampus paling top seperti UI dan ITB akhirnya  membuktikan, otak jenius itu ternyata cuma upgrade dari otak mesum biasa yang diberi WiFi unlimited. 

Nuan bayangkan! Di satu sisi ada 16 mahasiswa Fakultas Hukum UI yang dengan penuh dedikasi menyusun grup chat super eksklusif, membahas 27 korban -- 20 mahasiswi plus 7 dosen. Lengkap dengan komentar vulgar, objektivikasi tubuh, dan frasa filosofis mendalam seperti “diam berarti consent” serta “asas perkosa”. Mereka sidang sampai dini hari. 

Lalu, minta maaf sambil korban kecewa berat.  Ancaman drop out menggantung seperti pedang Damocles versi kampus elite. Luar biasa, kan? Hukum yang mereka pelajari ternyata cuma dipakai buat bikin aturan main di grup WA.

Belum sempat publik bernapas lega, boom! Giliran Himpunan Mahasiswa Tambang ITB naik panggung dengan Orkes Semi Dangdut mereka yang legendaris sejak 1970-an. 

Video lama dari 2020 tiba-tiba viral lagi, menampilkan puluhan calon insinyur tambang goyang Erika dengan penuh semangat. 

Mereka menyanyikan lirik abadi seperti “Erika buka celana, diam-diam main gila”, “sambil bawa botol Fanta, siapa mau boleh coba”, dan chorus “Goyang Erika luar biasa” yang bikin seluruh ruang kuliah terasa seperti klub malam kelas atas. 

HMT-ITB langsung gerak cepat minta maaf sebesar-besarnya, akui kelalaian karena lagu warisan 1980-an itu sudah ketinggalan zaman, hapus semua video dan audio dari kanal resmi plus akun individu, janji evaluasi internal komprehensif supaya sesuai etika kampus. 

Rektorat? Masih diem manis, mungkin lagi sibuk mikir rumus integral sambil berdoa semoga ini cuma mimpi buruk. 

Dua kasus ini muncul berurutan, bikin netizen heboh bilang “UI belum selesai, ITB langsung nyusul.” Ini seperti lomba siapa yang lebih kreatif dalam melecehkan perempuan dengan dalih “candaan tradisi himpunan”.

Nah, di balik semua kegemilangan ini, rahasianya ternyata terbongkar. Indonesia adalah juara dunia dalam konsumsi video porno, dengan traffic ke Pornhub mencapai puluhan juta kunjungan per bulan, sering nangkring di peringkat tinggi Asia bahkan global. 

Meski pemerintah sudah blokir ribuan situs dan orang-orang pintar pakai VPN seperti pakai kaos kaki. Data 2025 menunjukkan akses porno berhubungan sangat kuat (koefisien ? = 0,905 katanya) dengan potensi kekerasan seksual, dan mahasiswa jadi kelompok paling aktif baik sebagai konsumen maupun pelaku. 

Jadi begini ceritanya. Anak-anak muda kita yang lolos SNMPTN dengan nilai sempurna, yang seharusnya lagi sibuk bikin roket atau undang-undang, malah punya “guru seks” utama berupa situs porno yang bikin otak mereka desensitisasi total. 

Perempuan bukan lagi teman diskusi atau rekan kuliah, tapi jadi bahan goyang Erika sambil bawa Fanta atau objek chat malam-malam. 

Group reinforcement di himpunan dan grup chat bikin yang tadinya mesum jadi terasa normal, bahkan lucu. 

Peer pressure, power imbalance senior-junior, tekanan akademik, plus budaya patriarki yang masih kuat, semuanya bercampur jadi racun super efektif.

Ini sungguh puncak prestasi peradaban kita. Di negara yang katanya religius dan sopan santun, justru rakyatnya paling rajin buka situs dewasa, termasuk calon pemimpin masa depan yang otaknya sudah terlalu sering disiram konten vulgar sejak SMP. 

Hasilnya? Kampus bergengsi yang seharusnya melahirkan pemikir hebat malah melahirkan penyanyi dangdut mesum dan admin grup chat cabul. Pendidikan seks? Kurang. 

Pendidikan empati? Nol besar. Yang ada cuma IPK tinggi tapi EQ rendah banget, ditambah akses porno yang gampang seperti beli gorengan. Sungguh ironis, ya? 

Kita bangga punya UI dan ITB sebagai kampus terbaik, tapi budaya di dalamnya masih kayak SMA cowok yang baru pertama kali nemu internet.

Pengikut Koptagul yang budiman. Kalau pian sudah baca sampai sini dan merasa kecewa berat, kecewa sama mahasiswa top yang otaknya mesum, kecewa sama kampus yang cuma minta maaf doang, kecewa sama masyarakat yang pura-pura kaget padahal porno jadi hiburan nasional, maka tulisan ini berhasil total. 

Karena kenyataannya memang absurd. Kita punya generasi paling pintar secara akademik, tapi paling kreatif dalam bikin pelecehan jadi “tradisi”. 

Semoga suatu hari nanti mereka goyang Erika-nya diganti goyang otak, bikin solusi nyata bukan cuma take down video. Tapi untuk sekarang, mari kita tepuk tangan dulu buat “prestasi” ini. Bravo, anak-anak bangsa. Luar biasa sekali.rmol news logo article

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA