WAWANCARA

Komjen Nanan Soekarna: Apa Saya Pantas Menjadi Gubernur, Kan Dianggap Hedonis, He-he-he...­

Sabtu, 03 Maret 2012, 09:31 WIB
Komjen Nanan Soekarna: Apa Saya Pantas Menjadi Gubernur, Kan Dianggap Hedonis, He-he-he...­
Komjen Nanan Soekarna

RMOL. Wakapolri Komjen Nanan Soekarna ramai dibicarakan. Bukan hanya gara-gara dijagokan menjadi calon gubernur Jawa Barat. Tapi juga gaya hidupnya yang dianggap hedonis.

Menanggapi hal itu, Nanan Soekarna mengatakan, sejak tahun 1946 polisi sudah ada menggu­nakan motor gede, Har­ley Da­vidson. Sekarang ini malah polisi wanita (polwan) juga menggu­nakan motor tersebut.

“Kan sudah ditulis tentang saya yang hedonis. Seharusnya di­tanya­kan kepada anggota HDCI atau pengurus provinsi HDCI, agar bukan kata saya ya,’’ kata Ketua Harley Davidson Club Indonesia (HDCI), Nanan Soe­karna,  kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Seperti diketahui, anggota Ko­misi III DPR Trimedya Panjaitan dalam Rapat Dengar Pendapat  dengan Kapolri, awal Februari lalu mengatakan, Nanan Soe­karna memiliki hobi mahal yaitu me­nunggangi motor gede Harley Davidson.

“Itu hobi yang hedonis, mahal semua. Mana ada Harley yang harganya Rp 20 juta atau Rp 50 juta,’’ ungkap Trimedya.

Selaian Wakapolri,  jenderal bintang tiga ini juga menjadi Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) periode 2011-2014, Ketua Persatuan Menembak dan Ber­buru Seluruh Indonesia (Per­bakin) periode 2010-2014, dan Ketua HDCI periode 2011-2015.

Nanan Soekarna — yang saat ini berada di Jepang melaksa­na­kan tugas kepolisian — selanjut­nya mengatakan, masyarakat berhak mengkritik dirinya. Tapi soal hedonis, itu penilaian yang ber­lebihan.

Berikut kutipan selengkapnya:

 

Anda dianggap hedonis ka­rena hobi mengendarai motor besar, tanggapannya?

Waduh, itu mah bikin rame aja atuuh.

Apa Anda merasa seperti itu?

Begini ya. Sejak tahun 1946 ada polisi sudah pakai Harley Davidson. Sekarang polwan-polwan juga menggunakan Har­ley Davidson untuk dinas.


Berarti bu­kan hedo­nis dong?

Silakan menilai saja. Ini negara demokratis. Semua orang boleh menilai dan berpendapat sesuai dengan pikiran dan hati nurani­nya, serta pengalaman dan ke­hidupnya masing-masing.


O ya, Anda di­jagokan seba­gai calon gu­bernur Jawa Barat, apa sudah ada persiapan?

Walaaaah, apa saya pantas jadi gubernur ya, kan saya dianggap hedonis he-he-he...


Anda dinilai layak memim­pin Jawa Barat, kenapa tidak maju saja?

Apakah tidak ada yang lebih baik dari saya untuk memimpin Jawa Barat, sehingga provinsi itu menjadi maju, mandiri, dan world class. Kalau bisa saya lebih baik mendukung orang itu.


Bukankah Anda yang di­anggap terbaik oleh sebagian rakyat Jawa Barat itu?

Lho kan perlu dukungan selu­ruh masyarakat Jawa Barat. Apa­kah mereka mendukung saya.  Ada nggak pendukungnya. Apa masyarakat Jawa Barat suka saya menjadi gubernurnya.


Makanya harus diuji dulu melalui Pemilukada 2013,  tapi Anda siap kan?

Wah, saya pribadi tidak. Mung­kin teman-teman SD, SMP, SMA saya atau masyarakat Jawa Barat yang bergabung dalam Bamus (Badan Musyawarah Sunda)  yang mencalonkan saya, itu mungkin saja. Ya silakan saja mencalonkan.

Tapi perlu saya jelaskan, saya melihat tidak mudah tuh untuk menjadi calon gubernur. Bila nanti ada yang mencalonkan, saya tidak mau terlibat dengan money politic.  Saya tidak mau menang dengan cara seperti itu. Sebab, saya lihat itulah penyebab kesulitan memimpin di daerah atau pusat


Berarti sudah siap dong?

Kalaupun ya, yang dukung berapa besar. Kalau calon inde­penden harus ada 1,3 juta jiwa yang mendukung. Kumpulkan KTP, tapi jangan KTP tipu tipu he-he-he.


Intinya sudah oke menjadi calon gubernur Jawa Barat?

Kalau saya dipaksa oleh ma­syarakat Jawa Barat untuk meng­abdi berbakti dan berkorban, sebagai amanah ya saya siap.


Kalau maju menjadi calon gu­bernur, berarti mundur dari Wakapolri?

Makanya saya bertanya tadi,  apa benar masyarakat Jawa Barat itu mendukung saya menjadi gubernur. Sebab, kalau saya men­calonkan diri berarti akan mundur dari  Wakapolri. [Harian Rakyat Merdeka]


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA