Hal ini cukup beralasan, pasalnya Ma yang berasal dari Partai Nasionalis Kuomintang dalam kampanyenya menjanjikan hubungan yang lebih harmonis dengan China.
"China akan sangat senang menyambut kemenangan ini. (karena) Beijing tidak perlu menggunakan rudal namun mereka cukup membeli Taiwan melalui bisnis. Komunitas bisnis Taiwan yang telah menanamkan modalnya di China sangat mendukung kemenangan Ma," ujar pengamat hubungan internasional Yen Chen Shen dari Taiwan National Chengchi University sebagaimana dikutip The
Washington Post (Minggu, 15/1).
Selama menjabat sebagai presiden, Ma terkenal sebagai sosok yang dekat dengan China. Hal ini bertolak belakang dengan lawan politiknya dari Partai Progressive Demokratik, Tsai Ing Wen, yang mendukung kemerdekaan Taiwan secara penuh.
Pemerintah China dan AS secara memantau secara ketat proses pemilu Taiwan tersebut. Bagi China, Ma adalah kandidat terbaik guna menggiring Taiwan kembali dalam pengaruh China. Selama ini China hanya menganggap Taiwan sebagai provinsi China yang terpisah lautan.
[ysa]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: