RMOL. Hibah 24 pesawat F-16 dari Amerika Serikat (AS) kepada Indonesia tidak ada kaitannya dengan PT Freeport.
“Saat Menteri Pertahanan AmeÂrika Serikat Leon Panetta berkunjung ke Indonesia, OktoÂber 2011, tidak pernah menyingÂgung masalah PT Freeport,’’ kata Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro dalam wawancara eksklusif dengan Rakyat MerdeÂka di kantornya, Rabu (9/11).
Kedua negara, lanjutnya, meÂnyadari bahwa PT Freeport adaÂlah perusahaan, sehingga perÂmaÂsalahan itu bukan terkait peÂmeÂrintah dengan pemerintah.
“Saya hanya menyampaikan gerakan separatis di Papua yang ingin memisahkan diri dari NKRI,†kata bekas Menteri Energi dan Sumber Daya MiÂneral itu.
Berikut kutipan selengkapnya;
Kenapa pesawat F-16 itu diÂhibahkan?
Ada dua pertimbangan, makro dan mikro. Pertimbangan makro, Indonesia memiliki luas 19 juta kilometer per segi, dengan 13.000 pulau, sehingga harus dilakukan pengamanan dengan baik.
Kalau ini mau dilakukan, alutÂsista tidak hanya kualitasnya yang baik, tapi juga kuantitas. DeÂngan adanya hibah 24 pesawat F-16, maka dari sisi kuantitas bisa dipenuhi.
Ke depan kita akan punya dua skuadron pesawat F-16. Sebab, diprediksi ancaman berada di tempat yang jangkauanÂnya jauh. Maka diperlukan alutÂsista udara yang bisa menÂjawab tanÂtaÂngan terÂsebut.
Lalu apa yang menjadi perÂtimÂbaÂngan mikro?
Kami sudah mempersiapkan dana untuk membeli enam pesaÂwat F-16 blok 52. Namun untuk mendapatkannya butuh waktu lama.
Pesawat hibah ini akan di-upgrade deÂngan blok yang seÂtara dengan blok yang mau kita beli, yaitu 52.
Bukannya baÂrang hibah itu kualitasnya jelek?
F-16 yang dihibahkan bukan barang rongsokan. Kondisinya masih bagus. Sebelumnya kita punya sepuluh F-16 dengan blok 15. Sedangkan yang dapat hibah adalah 24 F-16 blok 25.
Selain itu, body pesawat terÂseÂbut bisa diperpanjang masa pengÂgunaannya hingga 4.000 jam terbang. Apabila tiap tahun peÂsawat tempur kita terbang 150-200 jam. Maka pesawat hibah ini diperkirakan akan bisa tetap terÂbang 15-20 tahun menÂdatang. Ini yang saya biÂlang maÂsuk dalam modernisasi alutsista kita.
Apa mendesak hingga peÂngaÂÂdaan F-16 harus cepat?
Kita melihat dalam perspektif ancaman. Untuk itu, kita perlu membangun kekuatan. Perlu modernisasi untuk memÂpersiapÂkan diri mempertahankan NKRI.
Makanya, modernisasi alat utama sistem persenjataan, suÂdah kita rencanakan dalam tiga renÂcana strategis (renstra), yaitu tahun 2010-2014, 2015-2019, 2020-2024.
Berapa anggarannya?
Kami hanya memiliki anggaÂran untuk pembelian enam pesaÂwat F-16 yang baru sebesar 432 juta dolar AS. Untuk pesawat hiÂbah kita perlu dana untuk memÂbawanya ke IndoÂnesia. DanaÂnya diambil dari anggaran pemÂbelian pesaÂwat F-16.
Oh ya, bagaimana dengan masalah Papua?
Masalahnya ada empat hal. Pertama, gerakan separatisme yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Kedua, masalah PT FreeÂport. Ketiga, dana otonomi khuÂsus. Keempat, masalah peÂnyeÂlenggaraaan Pilkada. Khusus masalah gerakan separatisme, jumlahnya tidak besar. MakaÂnya, tidak perlu mendatangkan pasuÂkan dari luar Papua.
Kalau jumlahnya tidak beÂsar, mengapa masalah ini tidak pernah selesai?
Selain melakukan gerakan senÂjata, mereka juga melakukan geÂrakan politik di dalam negeri dan luar negeri.
Di dalam negeri menggelar Kongres Rakyat Papua yang merupakan bentuk makar karena mendeklarasikan negara dalam negara. Di luar negeri, mereka menarik simpati dari negara lain. Tapi tidak berhasil, seperti perÂtemuan lawyer di London. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: