"Maka sebenarnya dia (SBY) itu bukan lagi
reshuffle. Tapi dia harus melakukan
over houl namanya.
Over houl itu seperti pesawat terbang, kalau sudah ketuaan, sudah mulai rusak semua, semua diganti.
Over houl itu lebih dari setengah (yang akan diganti). Susun ulang jadinya," kata pengamat politik Syahganda Nainggolan kepada
Rakyat Merdeka Online pagi ini.
Syahganda mengatakan hal tersebut, karena SBY selama ini percaya dengan hasil survei dan selalu memanfaatkan survei untuk memotret pandangan masyarakat.
Setelah merombak semua KIB II, Syahganda melanjutkan, Presiden SBY berbicara dengan pemangku kekuasaan yang terkait, meski memang tetap mengedapankan asas dan sistem presidensial. Meski tetap mengakomodasi partai koalisi, tapi SBY di sisa masa pemerintahannya ini harus membangun zaken kabinet.
"Kalau dari partai (PKS) misalnya,
ngirim Tifatul Sembiring. Ya jangan lah. Carilah orang yang kelasnya itu betul-betul, selain punya kapasitas,
leadirship, profesional, orang yang mengerti, perkembangan teknologi telekominikasi, IT dan segala macam," beber Syahganda.
Ribut-ribut soal Research In Motion, provider
BlackBerry, yang membangun pabrik di Malaysia, bukan di Indonesia, padahal jelas, Indonesia merupakan pengguna BB terbesar di Indonesia, dinilai bukti bahwa Tifatul tidak pas pada pos Menteri Komunikasi dan Informatika.
"Kenapa tidak di Indonesia, karena menterinya itu tidak bisa melobi. Karena tidak mengerti konten, (Tifatul) tidak bisa berdebat dengan RIM itu," tegasnya.
Pernyataannya di atas bukan berarti tidak menerima orang partai menjadi menteri. Tapi diharapkan, kata Syahganda, partai mengirim kader yang ahli dan mengerti akan pos kementerian yang akan diemban.
[zul]
BERITA TERKAIT: