WAWANCARA

Ahmad Doli Kurnia: Nazaruddin dan Gayus Terjangkit Penyakit Tua

Selasa, 16 Agustus 2011, 02:57 WIB
Ahmad Doli Kurnia: Nazaruddin dan Gayus Terjangkit Penyakit Tua
Ahmad Doli Kurnia
RMOL. Peran pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak bisa dianggap enteng. Pergerakan Boedi Oetomo (1908) dan Sumpah Pemuda (1928) adalah bukti konkretnya.

“Sebagai sebuah bangsa, masih banyak sekali pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan. Kritik dan koreksi kita terhadap berbagai persoalan bangsa yang dihadapi setiap peringatan 17 Agustus pada masa-masa kepe­mim­pinan lalu ternyata ma­sih te­rus beru­lang,’’ ujar Ke­tua Umum DPP Ko­mite Nasional Pemuda Indo­nesia (KNPI) Ahmad Doli Kurnia, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

“Keadaan seperti itu mengkha­watirkan saya, bahwa masyarakat suatu saat akan meng­alami de­gradasi makna ter­ha­dap peringa­tan-pe­ri­ngatan itu,’’ tambah Vice Pre­si­dent World Assembly of Youth (WaY) itu.

Berikut kutipan selengkapnya:

Kenapa Anda berkata be­gitu?
Begini, sebagian besar masya­rakat kita belum merasakan ke­mer­dekaan yang sesungguhnya. Mereka belum merdeka dari ke­miskinan, kebodohan, dan rasa ketidak-adilan. Bahkan lebih dari itu, masyarakat kita sekarang terasa jauh dari nilai-nilai ke-Indonesiaan.

Apa peran KNPI menyikapi situasi seperti itu?
Concern kami adalah, bagai­mana bangsa kita terutama anak-anak muda Indonesia tetap mem­punyai rasa cinta tanah air, punya kepedulian, dan mau berbuat se­suatu demi kepentingan bangsa dan negara. Sebab, akar dari se­mua masalah yang kita hadapi hingga saat ini adalah hilangnya komitmen kita terhadap bangsa ini. Caranya adalah de­ngan mela­kukan berbagai aktivi­tas, gera­kan, dan keinginan ber­buat pres­tasi yang mengarah pada pengua­tan komitmen itu.

Prestasi apa yang sudah di­buat?
Kami tidak bisa menilai diri sendiri. Prestasi itu dinilai oleh orang lain yang melihatnya. Yang terpenting, kami terus berupaya berbuat sesuatu. Kami melaku­kan berbagai program berspek­trum luas. Mulai isu-isu kema­sya­rakatan, keluarga berencana, lingkungan hidup, jaminan sosial, bencana alam, dan banyak lagi. Kami juga menunjukkan berba­gai sikap sebagai bagian gerak politik kebangsaan kami. Soal kepemimpinan yang tidak efektif, kebobrokan hukum, korupsi, lemahnya karakter bangsa, dan sebagainya.

Kami juga aktif dalam pergau­lan pemuda Internasional. KNPI sekarang punya posisi Vice Pre­sident di Organisasi Pemuda Dunia (WaY), Vice President di Organisasi Pemuda Asia (AYC), serta menjadi President Interna­tional Youth Movement for Cli­mate Change (IYMCC). Itu se­mua kami lakukan untuk meng­harumkan nama bangsa Indone­sia di dunia Internasional dan mem­bangkitkan semangat anak muda untuk terus berprestasi.

Bagaimana Anda melihat pe­negakan hukum saat ini?
Dari dulu saya selalu mengajak generasi muda Indonesia, khu­susnya KNPI menjadi garda ter­depan mengembalikan Indo­nesia sebagai negara hukum yang se­sungguhnya. Penegakan supre­masi hukum masih jauh dari memuaskan. Penegakan hukum Indonesia sudah berada di titik nadir dan tidak punya wibawa. Untuk itu, kami mengajak selu­ruh pemuda mengembalikan wibawa hukum di Indonesia.

Seberapa buruk penegakan supremasi hukum sekarang ini?
Kami sangat prihatin dengan kondisi ke-Indonesiaan kita saat ini. Negara kita seperti Negara hukum rimba. Semua persoalan diselesaikan berdasarkan selera masing-masing di antara yang bermasalah. Hukum kita sudah tidak lagi memenuhi azaz kepas­tian, keadilan, dan keman­faatan sebagaimana mestinya. Salah bisa jadi benar, benar bisa jadi salah, putu­san tidak dapat diekse­kusi, ekse­kusi juga bisa tanpa putusan, yang semuanya serba tidak pasti. Ke depan, saya berha­rap penega­kan hukum oleh aparat penegak hukum bisa lebih diting­katkan. Institusi hukum harus lebih meningkatkan kinerja.

Terkait dengan kondisi per­po­litikan terkini di Indonesia, apa komentar Anda?
Saat ini bangsa Indonesia be­nar-benar berada di tengah kea­daan situasi politik yang sangat buruk. Dinamika politik yang tum­pang tindih dengan kepe­mim­­pinan yang lemah serta ke­tidakpastian hukum itu telah men­coreng per­tum­buhan sistem politik dan demokrasi di Indo­nesia.

Kita mengalami pandemik politik. Lebih dalam dari itu, se­sungguhnya bagi kita anak muda seharusnya mempunyai kegeli­sahan yang sangat terhadap situasi saat ini

Bagaimana Anda menyikapi banyaknya anak muda yang ter­­­­libat kasus sekarang ini?
Saya prihatin terhadap perban­dingan yang terjadi di penghu­jung Orde Baru dan kondisi saat ini. Pada saat ujung Orde Baru, semua pemuda berteriak meng­hujat orang tua. Pe­muda benci me­lihat praktik poli­tik uang, korupsi, kolusi, nepotis­me, dan semua perilaku kotor. Bahkan hal itu dituduhkan se­muanya kepada para pemim­pin-pemimpin pada saat itu, dan meminta mereka untuk turun panggung, ditangkap, dihukum, dan dipermalukan.

Tetapi sekarang penyakit-pe­nyakit politik seperti orang tua itu sudah pula terjangkit dengan sta­dium yang tinggi pada politisi dan pemimpin muda saat ini. Misal­nya Nazaruddin, Gayus, dan be­be­rapa nama yang terindi­kasi saat ini adalah orang-orang muda.

Dengan melihat kenyataan ini saya mengharapkan dibangun kesadaran kolektif baru bagi seluruh pemuda Indonesia bahwa kita harus hati-hati terhadap setiap godaan penyakit-penyakit kekuasaan. Ternyata penyakit itu bisa menghidap siapa saja, tua muda, laki perempuan, semuanya bisa.   [rm]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA