“Masalah terorisme di IndoÂnesia sudah masuk wilayah
high intention, itu sudah masuk skala TNI,†tandas Wakil Menteri PerÂtahanan, Sjafrie SjamÂsoeddin, kepada
Rakyat Merdeka, Kamis (4/8).
Apabila TNI dilibatkan dalam operasi pemÂberantasan teroÂrisme, Sjafrie merasa yakin TNI bisa menjaÂlanÂÂkan tugas terÂsebut deÂngan cepat, tepat, dan terorgaÂnisir. Sebab, TNI selama ini meÂmiliki kemampuan dalam pemÂberantaÂsan dan penangguÂlangan terorisÂme di tiga angkaÂtanÂnya, yaitu darat, laut, dan udara.
“Satuan penanggulangan teroÂrisme di TNI seÂÂlalu terÂpeÂliÂhara keÂmamÂpuanÂnya,†ucap beÂÂkas PangÂÂlima Kodam Jaya itu.
Berikut kutipan selengkapnya;
Kalau sudah menyangkut keÂuÂtuhan NKRI, bukankah TNI bisa langsung bertindak?Semua keputusan keterlibatan TNI dalam pemberantasan teroÂrisme, tergantung pada keputusan politik pemerintah. Apakah TNI dilibatkan atau tidak.
Yang jelas, keterlibatan TNI dalam pemberantasan terorisme jangan dilihat sebagai kepenÂtingan kekuasaan. Tapi terorisme adalah sebuah ancaman bagi keutuhan NKRI dan harus segera diberantas.
Bagaimana strategi penangaÂnannya?Penanganan terorisme tidak bisa dilakukan oleh satuan-satuan dalam skala reguler saja. Tapi harus dilakukan dalam skala pasukan khusus. Saya yakin TNI bisa dan mampu bila diberikan kepercayaan untuk penanganan terorisme.
Kita harus memberi peluang seluas-luasnya kepada TNI untuk meningkatkan kemampuannya agar setara dengan kemampuan pasukan internasional. Hal ini untuk menjaga kualitas tentara kita. Ibarat pisau, digunakan atau tidak digunakan, pisau itu harus diasah.
Bukankah selama ini Polri suÂdah menangani terorisme seÂcara efektif?Saya rasa cukup efektif peÂnangaÂnannya selama ini. Namun, apabila ada peningkatan skala intensitas dalam hal ancaman dari teroris, maka diperlukan keterliÂbatan TNI dalam penanganannya.
Saya melihat saat ini diperluÂkan Dewan Keamanan Nasional yang melakukan observasi berkeÂlanjutan mengenai pemetaan siÂtuasi nasional yang harus meliÂbatÂkan TNI. Pada saat terjadi ambang batas ancaman dalam skala tinggi, maka presiden langÂsung memutuskan TNI harus masuk.
Bagaimana dengan keterÂliÂbaÂtan TNI dalam penumpasan OPM?Di Papua itu sudah jelas sasaÂranÂnya siapa. Ketika sasarannya sudah ada, maka TNI akan memÂberlakukan strategi militer. StraÂtegi itu memiliki porsi tersendiri untuk melawan, kami sering meÂnyebutnya melawan
insurgency dan itu ada pola operasinya.
Tapi saya tidak bisa kemukaÂkan bagaimana pola operasinya lebih lanjut. Yang jelas, TNI suÂdah memiliki pola operasi dalam menjaga keutuhan NKRI.
Saat ini TNI dalam menjalanÂkan perannya sudah memiliki pegangan, yaitu undang-undang. Di dalam undang-undang ada operasi militer selain perang, dan TNI dapat menjalankan tugasnya menumpas separatisme berdasarÂkan keputusan politik pemeÂrintah.
Kenapa penumpasan OPM tiÂdak kunjung tuntas?Semua yang kita rencanakan, tidak bisa selalu dikaitkan dengan selesai atau tuntas. Sebab, secara universal di seluruh dunia, maÂsalah
insurgency tidak bisa diseÂleÂsaikan sampai orang yang terakhir. Misalnya
insurgency seÂparatis, itu kan ideology. Bisa diterapkan secara politik ataupun kekerasan. Apabila kekerasan yang digunakan, maka TNI berÂperan untuk memberantas.
Benar OPM disusupi kepenÂtiÂngan negara asing?Kita sulit mengatakan sebuah
insurgency berdiri sendiri. Sebab, ada kaitannya dengan
non-state actor. OPM itu diindikasikan diÂsusupi oleh
non-state actor, buÂkan atas nama negara tertentu. Dari sejarahnya, tiap
insurgency selalu ada kaitannya dengan orang luar, tetapi tidak bisa dikaÂtakan orang luar itu adalah negara.
O ya, bagaimana dengan perÂkembangan industri alutsista?Target pemerintah 2010-2014 adalah melakukan modernisasi alat utama sistem senjata (alutÂsista) di tiap angkatan. Saat ini kita sedang mengembangkan pesawat angkut sedang yaitu CN-295 atau biasa disebut
Air Bus military, kerja sama antara PT DI dengan Spanyol, Jerman, dan Prancis.
Selain itu, PT Pindad sudah bisa membuat Panser Anoa seÂbanyak 154 buah dan sudah digunakan untuk kontingen kita di Lebanon. Kita juga sedang mengembangkan pembuatan tank dalam negeri.
Semua alutsista yang kita buat, sudah diakui dunia internasional. Bahkan Malaysia dan Brunei sudah melakukan penjajakan untuk membeli kendaraan tempur asal Indonesia, seperti Panser Anoa. diperkirakan Malaysia membutuhkan 30 armada dan Brunei butuh 50 armada.
[rm]
BERITA TERKAIT: