Namun saat dikonfirmasi, Gurubesar Ilmu Hukum Tata Negara ini menampik. Meski dia mengapresiasi atas dorongan sebagian politisi PPP seperti Ahmad Yani untuk ikut dalam Muktamar.
"Boleh-boleh saja. Tapi kan lebih baik yang ada itu saja lah. Saya sih tidak ada masalah. Saya sih kalau memberikan dukungan untuk memperbesar partai, boleh. Cuma kan saya bukan orang partai, tidak usah lah ikut-ikut dalam partai. Bisa membantu dari luar saja. Saya syukur mereka merasa dekat (dengan saya), saya juga merasa dekat. Tapi tidak usah masuk, saya kan bukan orang partai," kata Jimly kepada
Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Senin, 16/5).
Jimly mengaku mau memberikan dukungan karena PPP merupakan partai Islam. Tapi sekali lagi dia mengatakan, tidak akan mau membantu secara langsung dengan menjadi ketua umum atau pengurus.
"Macam-macam (bantuan yang bisa diberikan), bisa berdoa. Itu kan dukungan luar biasa, bisa juga memberikan konsultasi, seperti selama ini memberikan bantuan dukungan moral nasihat," jelasnya.
Saat ditanya apa yang harus dilakukan PPP saat ini, ia mengatakan partai berlambang kabah itu harus bisa menjadi bagian dari umat Islam. Apalagi saat ini umat Islam mengalami disorentasi, misalnya dengan munculnya wacana Negara Islam Indonesia (NII).
"Ini terjadi karena internal leadership di tengah-tengah umat Islam itu tidak terbentuk. Ini yang paling pokok jadi agenda PPP. Karena dia partai yang paling eksplisit mengklaim partai Islam. Yang lain kan tidak, hanya malu-malu kecuali PKS. Kedua ekonomi. Bagaimana membangun kesejahteraan yang berkeadilan sosial. Semua kebijakan-kebijakan ekonomi harus berkeadilan sosial. Ini yang harus disuarakan PPP," tandasnya.
[wid]
BERITA TERKAIT: