â€Sebenarnya Osama Bin Laden tewas atau masih hidup, kami tetap waspada terhadap aksi anÂcamÂan bom dengan motif balas denÂdam,’’ kata Ketua BNPT, Irjen Pol (Purn) Ansyad Mbai, di JaÂkarta, kemarin.
Pada umumnya bom yang terjadi di tanah air ada unsur balas denÂdam. Misalnya bom Natal meÂrupakan balas dendam dari kasus Poso dan Ambon. Bom di KeÂÂdubes Philipina untuk memÂbalas dendam atas mujahidin yang dibantai Philipina di MinÂdanau.
Ansyad menilai perlu ada upaÂya progresif untuk menekan acaman teror yang terjadi di InÂdonesia, salah satunya melalui proÂgram deradikalisasi. Ini tidak cukup dilakukan dengan khutbah yang dilakukan para ulama, tetapi harus ada pendekatan fisik.
“Yang paling mendesak untuk dilakukan adalah rehabilitasi para teroris yang sudah kembalil ke masyarakat. Kami bekerja sama deÂngan polisi, lembaga keÂmaÂsyaÂrakatan dan Kementerian AgaÂma,†paparnya.
Berikut kutipan selengkapnya:
Umar Patek ditemukan di Pakistan, apa ada hubungannya dengan Osama Bin Laden?Keberadaan Umar Patek di PaÂkistan ingin berjihad di sana. SeÂdangkan keterkaitannya dengan bom bunuh diri di Cirebon, dia satu kelompok. Nanti akan kami ungÂkap jaringannya secara lengkap.
Kenapa masjid yang dibom?Teroris itu tidak peduli soal saÂsarÂan, tempatnya boleh di mana saja.
Bagi mereka siapapun yang mengÂhambat tujuannya, itu adaÂlah musuh dan harus diperangi. Kalau masjid itu punya pemeÂrinÂtah dan tidak sesuai dengan paÂhamÂnya, maka mereka berkeÂyaÂkinan tidak masalah bila dibom. Sebab, dianggap masjid kafir.
Berapa macam kelompok raÂdikal di Indonesia?Ada dua kelompok radikal, yakÂni radikal teroris dan radikal non-teroris. Kelompok radikal teÂroris itu melakukan aksi teror fisik. Sedangkan radikal non-teÂroris melakukan aksi dakwah ke beÂberapa masjid untuk meÂnyeÂbarÂkan pandangan mereka.
Apa motivasinya sama?Betul. Kedua kelompok ingin meÂlakukan jihad. Lebih jelasnya memformalkan syariat Islam menÂjadi sebuah dasar negara. Jadi yang membedakannya soal strategi saja.
Isu apa saja yang disampaikan mereka?Kelompok radikal teror pada mulanya mengusung isu interÂnaÂsioÂnal, seperti simbol-simbol Amerika dan Yahudi. Tetapi sekaÂrang mengusung isu lokal bahwa neÂgara dianggap kafir.
Teroris terasa sulit diberantas, beÂgitu tokohnya tewas, muncul toÂkoh yang lain, kenapa bisa beÂgitu? Memang kondisinya seperti itu. Setiap teroris yang tewas, pasti muncul teroris baru. Ini meÂmang menjadi persoalan untuk memberantasnya sampai tuntas.
Apakah kedua kelompok raÂdikal ini mendapat dana dari Al Qaeda? Pendanaan mereka tidak semata-mata dari Al-Qaeda, itu sudah terbukti. Coba saja lihat, meÂreka merekrut orang untuk dicuci otak, mengambil laptop dan nyari duit dari kejahatan. ArtiÂnya kita tidak bisa salahkan dari luar saja, tapi dari dalam juga. Mereka merampok Bank Cimb Niaga dan merampok toko emas yang katanya merampok kekayaan musuh dalam perang.
Bagaimana mengatasi keÂmungÂÂkinan teror di Asean Summit?Saya rasa pelaksanaan Asean Summit itu membuktikan bahwa Indonesia dalam kondisi aman. Tetapi kami tetap waspada dalam melakukan pengamanan. TNI dan Polri terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, tidak terkecuali dengan pihak keamanan dari negara-negara tetangga.
Bagaimana Anda melihat paÂham NII?Saya setuju dengan pendapat bahwa gerakan ini adalah makar. Tentu sudah sewajarnya ditunÂtaskan juga.
Paham NII sudah menyebar ke kampus, bukankah semakin sulit memberantasnya?Ada penelitian menyebutkan bahwa banyak guru agama yang membenarkan aksi-aksi inÂtolerÂan. Untuk itu perlu peran dari rekÂtor dan dosen. Kalau tidak salah MenÂÂdiknas sudah memanggil seÂmua rektor, tapi saya tidak tahu haÂsilnya. Saya rasa poinnya adaÂlah memÂperhatikan masalah ini.
[RM]
BERITA TERKAIT: